Apapun Tidak Akan Menjamin Apapun


Memang sejak awal telah saya bayangkan. Ini bukan pekerjaan mudah untuk menjadikannya seorang presiden. Siapapun akan dituntut untuk bekerja keras, meyakinkan orang lain sosok ini memang baik dan layak. Namun apa lacur. Kekuatan maha dahsyat dari pemilik suara miring dan sedikit licik menjadi tembok penghalang. “Licik” saya berani katakan disini karena cerita masa lalu yang sengaja dipertahankan untuk menahan popularitasnya, membuat tidak sedikit kalangan tertentu tidak berterima dan malahan menganggapnya monster yang harus dijauhi. Pendeknya, ada aroma pemberian gelar tidak hormat untuk seorang yang saya tahu bahwa beliau adalah orang baik, meski tetap pernah berbuat salah (manusia tidak pernah luput dari kesalahan).

Dugaan saya benar. Prabowo Subianto kalah dalam Pemilihan Presiden 2014. Beliau tidak terpilih dengan perbedaan suara tidak terlalu lebar. Ini menandakan separah-parahnya beliau di mata “pencibir”nya, terdapat segelintir orang yang percaya akan pribadi yang baik ini. Termasuk saya. Lingkungan sekitar saya, yang rata-rata menolak keberadaan (terlepas dari kompetisi pilpres dengan calon tandingannya) oleh karena menganggapnya beliau monster (meskipun mereka tahu dari cerita orang lain), sering mencibir keberadaannya. Tanpa prestasi, pelanggar HAM, Pemberangus keberadaan etnis tertentu, dan masih banyak lagi cibiran yang lain. Namun kesemuanya itu saya maknai saja sebagai bentuk keterbatasan manusia. Saya yakin, mereka bicara tanpa referensi yang valid, bahkan cerita dari orang lain yang tahu dari orang lain pula. Alias, bicara tanpa bukti yang jelas.

Keinginan untuk mengajak berdiskusi teman-teman tersebut. Namun melihat kondisi dan situasi beberapa teman yang kerap mengeluarkan otot leher ketika diajak berbicara. Ditambah pula dengan situasi menjelang pesta demokrasi presiden (Pilpres 2014), membuat saya enggan membuang energi melakukan keinginan saya. Pasti yang dipakai istilah “pokok e” (baca : Pokoknya).

Saya tidak akan membandingkan dengan figur kompetitornya di Pilpres 2014, karena tidak pantas untuk dibandingkan dan membanding-bandingkan orang. Saya yakin pula orang “normal” tidak begitu nyaman jika dibanding-bandingkan. Subyektivitas saya melihat figur Bapak Prabowo Subianto adalah figur yang kontroversial namun memiliki ketulusan dalam menghargai dan menghormati orang. Tidak ada yang perlu ditakuti jika memang tidak ada yang salah dari kita. Justifikasi jika figur beliau merupakan figur yang emosional, tidak perlu dilebih-lebihkan karena memang itu ada disebagian besar diri kita masing-masing pula. Jangankan diri kita, semut saja akan menggigit jika kita menggangu keberadaannya.

Jika menyoal pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh beliau. Tentu kita harus berpikir secara menyeluruh. Ini perdebatan yang mungkin tiada akhir dan akan dicatat dalam benak setiap warga negara. Memberanikan diri untuk mengatakan jika memang benar Bapak Prabowo Subianto menjalankan misi menyakitkan ini, memang dosa sejarah yang ini harus ditanggung beliau. Hukuman telah beliau terima sendiri selaku komandan. Tidak menyentuh dan menyeret pihak-pihak lain yang seharusnya pula bertanggung jawab. Sejarah tersebut dibebankan sepenuhnya dipundaknya. Menerima kekejaman seantero kecaman dan bahkan fitnah yang lahir dari kait-mengkaitkan cerita. Saya kira sudah cukup ini menjadi bukti rasa tanggung jawab yang tinggi. Ironisnya, ini yang hampir tidak ada dalam cerita kepemimpinan di negeri ini.

Akan tetapi, saya masih saja bertanya-tanya. mengapa cerita ini tidak pernah terselesaikan. entah selesai di meja pengadilan yang “adil” ataupun upaya penagakan hukum yang lain. Ada seribu tanda tanya yang terselubung jika kita mau berpikir secara menyeluruh. Menciptakan cerita yang spekulatif tentunya tidak memuaskan hasrat dan dahaga kita untuk mengetahui kebenarannya. Yang ada hanyalah penjejalan pikiran kita dengan omongan, berita buram dan semu serta menyebabkan sakitnya penalaran kita.

Penolakan terhadap figur Prabowo Subianto memang cukup manusiawi, akan tetapi ini perlu tetap ditaburkan pemahaman yang lebih tetap. Maksudnya, jika memang kita tidak suka dengan sesosok manusia, jangan biarkan akal sehat kita tidak diberi ruang untuk mencari bagaimana data dan informasi sebenarnya. Menghakimi dengan frontal seorang figur kemudian menempatkannya pada tempat sekawanan monster seram. Padahal tidak selamanya cara pandang kita benar dan obyektif selama kita masih menjejakkan kaki di muka bumi ini. Ini membuat kita layaknya manusia yang memotong seluruh indra kita dan berjalan menggunakan indra orang lain. Untung jika itu membawa kita kepada keberkahan, namun jika sebaliknya? Ingat… dimuka bumi ini, apapun tidak akan pernah menjamin apapun!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s