Menimbang Selera di 12 – 12 – ’12


Menjelang akhir tahun 2012, ada banyak cerita dan pergunjingan yang terjadi. Bukan cerita pergantian Menpora AAM, ataupun pergunjingan sangsi FIFA untuk PSSI. Jauh dari urusan RI 1 yang berekspresi dan ber statement aneh mengenai pemimpin yang tidak tahu jika melakukan pelanggaran harus dibela, apalagi persoalan Negara Israel yang belum mengakui keberadaan bangsa dan Negara Palestina. Tapi ini persoalan kehangatan konstalasi pergantian pimpinan di sebuah institusi. Bersinggungan dengan nasib institusi beberapa tahun ke depan.

Kasak-kusuk banyak yang melintas. Layaknya sebuah pesta, banyak sekali hidangan isu dan gosip yang beredar. Semua bebas disantap, dan dilewatkan begitu saja akibat berada di arena jauh dari selera. Kebebasan menyantap inilah, hakekat dari sebuah “pesta demokrasi”.

Demokrasi bukan persoalan pengambilan keputusan semata. Apalagi soal pemungutan suara. Demokrasi, saya pikir lebih menitik beratkan kepada bagaimana seluruh aspirasi dan kebebasan individu diakomodir, diakui dan dihargai dalam kerangka penataan sebuah lembaga dari skala kecil hingga besar. Bentuk pengakuan dan penghargaan inilah yang terkadang sulit, karena memang pada dasarnya beragam dan majemuk. Semakin tinggi populasi maka akan berbanding lurus dengan keberagaman.

Lebih jauh dari itu, demokrasi juga menekankan arti penting perlindungan terhadap kaum minoritas. Sejalan dengan perkembangannya, minoritas pasti akan terdominasi oleh mayoritas. Termarjinalnya kaum minoritas wajar terjadi. Namun itu merupakan bias dari demokratisasi. Artinya, ternyata demokratisasi juga membutuhkan kelapangan dada untuk mengakomodir perbedaan / keberagaman, atas dasar junjungannya terhadap hak asasi manusia.

Jika ada perbedaan di momentum 12 – 12 – ’12, ini adalah sebuah kewajaran. Memilih adalah hak, tetapi melekat pula kewajiban. Hak artinya partisipasi aktif terlibat dalam penyuksesan proses oleh seluruh elemen institusi, dan kewajiban  menandakan kesediaannya untuk menterjemahkan prinsip-prinsip demokrasi. Bukanlah sebuah “penghakiman” yang ditonjolkan dalam hal ini. Namun kesediaannya untuk menerima perbedaan dan keragaman yang terjadi. Menaikan suhu perbedaan adalah tindakan tradisionil dan kuno. Tetapi menyiapkan diri untuk menerima perbedaan itu yang visioner. Ini bagian dari menimbang 12 – 12 -’12….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s