Tidak…., Kami Sedang Krisis


KrisisDi almamater ini, Indahnya senandung lagu natal, tidak seelok cerita yang didengar. Intensitas kecamuk konflik semakin meninggi, dengan nada keras dan tensi tinggi. Interpretasi dari ayat emas yang dipampang, “Idealisme Institusi ini mengagumi dan menjunjung tinggi Yang Esa, tetapi banyak yang tidak mengetahui dan menyadarinya”.

Lembar per lembar dari buku “Kreatifitas yang Bertanggung jawab” saya buka dan membacanya. Tepat di halaman 238, saya berhenti sejenak dan merenungkan tulisan yang ada (pidato timbang terima pejabat rektor, Bapak founding father, 19 April 1971). Sekelumit pidato beliau mengungkapkan :

“Dalam mencari informasi, tentang kenyataan yang senantiasa dalam proses berubah dalam perhubungannya, baik yang kausal maupun inter-human-fungsional, yang wajib diusahakan oleh tiap fakultas, jurusan dan lembaga-lembaga kita yang khusus, hendaknya menyadarkan kita bahwa pergaulan sosial, kepentingan hidup kita itu tidak senantiasa menyebabkan perhubungan yang contrair (bersifat pertentangan), melainkan kerapkali juga bersifat conform (bersifat penyesuaian dan saling membantu).

Daripada usaha mempelajari informasi yang teliti, dapat juga mengetahui bahwa pembinasaan fihak lain (fihak yang dianggap musuh atau lawan) tidak selalu membawa akibat yang menguntungkan serta menggembirakan bagi pihak kita sendiri, yang menghancurkan atau mencoba menghancurkan itu.

Informasi yang kita peroleh dengan akal dan pikiran kita hendaknya membawa kita kepada kesimpulan bahwa tiada sendiri di dunia ini. Sebab itu kerjasama antara kita membuat kehidupan kita di dunia, di bawah matahari dan bulan, lebih bermanfaat, paling sedikit lebih mendingan.”

Refleksi tegas yang cukup menghantarkan kita pada pemahaman, kenyataan pertentangan selalu hadir dalam dinamika institusi. Tidak bisa tidak dan wajib dihadapi. Namun landasan berpikir yang kuat telah diberikan, bahwasannya tidak selamanya dominasi dan penghancuran itu yang dikedepankan. Makluk sosial adalah kita. Angin kepentingan akan merubah haluan, peta kepentingan akan berubah, dia bisa memojokkan seseorang pada kehancuran jika tidak ada ruang untuk membuka diri dalam penyesuaian dan kerjasama.

 Krisis Identitas Dan Kepercayaan

Awalnya, saya tidak terlalu menggubris segala peristiwa pertentangan yang terjadi lewat begitu saja. Sikap acuh tak acuh lumrahnya orang menyebutnya. Memang secara langsung bukanlah urusan pribadi saya. Bukan urusan saya, karena memang tidak bersinggungan langsung dengan persoalan kepentingan pribadi. Tidak cukup alasan untuk saya terlibat masuk ke dalam peristiwa-peristiwa pertentangan itu.

Sejatinya kebenaran di muka bumi ini adalah pembenaran. Hal yang mutlak berbeda tipis dengan subyektifitas. Sekarang kami berdamai, di depan kami tidak bertegur dan tatap muka. Berlangsung cepat dan tidak terduga. Meski kadang terjadi tanpa ada alasan yang jelas, dan kesimpulan dari mulut lain tanpa ada verifikasi. Kasak kusuk, menebar ancaman dan melakukan agitasi mewabah. Setiap sudut ruang diisi dengan kecurigaan.

Jelas ini tidak sejalan dengan apa yang termaktub dalam ideal-ideal Institusi. Duduk sehidangan untuk berbicara, berdikusi, berbagi argumentasi dan berdebat dalam bingkai perkembangan, kelihatannya makin sunyi. Padahal ini adalah magistrorum, tempat bersekutu para intelektual. Intelektual yang mengedepankan rasionalitas dan logika yang dewasa serta dibawa dengan kerendahan hati. Menjadi tidak beralasan ketika berbeda argumentasi dimaknai sebagai permusuhan dan pertentangan.

Ini krisis. Ya saya menganggap krisis. Identitas institusi yang sesungguhnya tidak tampak. Buram, bahkan siluet-nya pun tidak jelas. Nilai saling percaya sudah mencapai titik terendah. Tidak ada lagi area dihati memberikan tempat untuk berbicara saling memberi masukan, menasehati, mengkritik, mencari jalan keluar bersama, saling menenangkan serta menguatkan. Hampir semua telah terisi dengan kecurigaan, dendam, perlawanan serta saling mendominasi.

Persoalannya sampai kapan ini terjadi?. Berpikir positif, ini adalah dinamika. Badai pasti akan berlalu. Namun,  haruskah kita  menunggu diporak-porandakan oleh badai, yang tanpa sadar kita ciptakan sendiri? Seorang teman sempat bergumam, institusi ini kelihatannya baik-baik saja, saya menjawab, Tidak …, kami sedang krisis….

Iklan

4 responses to “Tidak…., Kami Sedang Krisis

  1. ha, ha, ha wah apa kabar guru, kawan dan suara hati sudah lama tak berjumpa, dengar – dengar dunia lapar., lapar sesuatu yang benar, suara hati kemana pergi., apa yang kan kau suara kan (Iwan Fals).

    paradoks yo pa, 7 tahun ak belajar tidak saja ilmu tapi pola pikir, sejarah, gaya hidup, orang – orangnya dan sudah hampir 5 tahun lebih ak ga masuk ke kampus ternyata apa yang kamu bilang diatas sebagai tempat bersekutunya intelektual tapi kenyataannya kering dari kasih, yang mana seharusnya di kampus ini dasar dari pemikiran & laku civitasnya adalah Amsal 1:7a tapi “bukan takut akan Tuhan, bla, bla ” yang jadi penghayatannya tapi seringkali terjebak dalam ” takut akan uang, tidak populer dan takut penguasa adalah pengetahuan yang harus dipelihara” sehingga benar apa yang Amsal tuliskan kemudian” jika tidak ada wahyu, liarlah rakyat”, Satya sedang kehilangan visi pendidikan., dan jika seperti ini kondisinya maka berlaku juga guyonan masih Universitaskah Satya Wacana?., dan dari sejarah juga kita tahu bahwa kampus ini didirikan utk jadi saksi dan batu karang oleh founding fathersnya: Notohamidjoyo, Probowinoto, dan kawan2 yang terilhami oleh Abraham Kuypers (tokoh vreeij universitit, Belanda, seorang calvinis modern). jadi jelas Satya Wacana punya keunikan lain dibanding kampus kristen lainya, dulu katanya neh pelopor sistem sks, punya perpustakaan bagus se-Asia Tenggara, Indonesia mini, menjunjung tinggi demokrasi, dosennya kritis bahkan masih punya waktu diskusi dengan mahasiswanya dan info terbaru bekerjasama dengan google dalam teknologi komunikasi (bagus juga) tapi dari dulu sampai sekarang dalam amatan saya sedikit yang punya waktu utk bertatap muka, memanusiakan manusia / mahasiswanya eh malah sekarang maen teknologi lagi (jangan2 bales emailnya cuman: ok nanti liat atau ehm ide bagus itu ato km ketemu sya nanti jm 3 ya tpi pas jm yg ditentuin ternyata nga nonggol, bilang maaf aja nga ke mahasiswa), hadew ,
    Tetapi ada pertanyaan muncul, sampai sebegitukah Satya itu? saya berani menjawab: TIDAK !!! karena saya percaya masih ada batu karang (benih –benih) yang akan tumbuh di tanah yang subur., masih ada harapan dan harapan akan selalu ada bagi siapa saja yang terus beharap dan berbuat. Satya Wacana harus sudah berbenah, kalau mahasiswa Malaysia dan Korsel (yang umur negaranya ga jauh beda) sudah bisa buat pesawat untuk negaranya, jadi apa yang salah di segilintir group of interested Satya Wacana (jika dilihat dari sejarahnya)?., masih banyak dosen yang ga punya waktu utk diskusi, menghargai pemikiran dan karya mahasiswa. Mahasiswa terkadang hanya dianggap objek yang dijejali teori tanpa tahu arti penting sebuah nilai atau insannya., yang penting siap dipasarkan, padahal setelah lulus hanya nilai diri yang aktif dan kompetitif, punya etika dan moral yang bisa menyelamatkannya karena untuk hal keilmuan dalam dunia pendidikan pasca Orba jatuh hanya menghasilkan keseragaman dalam setiap lulusannya di dunia kerja.
    Akhir kata, ada benarnya perspektif almarhumah Ibu Konta dalam kuliah ilmu ekonomi studi pembangunan, bahwa kemiskinan yang paling membahayakan menurut Amartya Zen adalah kita memang kaya, bau wangi tetapi jika kita tidak bisa bercakap – cakap, penuh curiga dengan sesama., maka sebenarnya kita miskin. Kita harus banyak belajar dari tokoh – tokoh Satya Wacana yang sederhana, setia tapi otaknya guru besar, seperti: prof. Kutut Suwondo, yang sudah berpulang ke Bapa di surga, dapat dijadikan teladan, pribadi yang dekat dengan mahasiswa dengan senyumnya juga dengan awam. Oh., Satya Wacana semaikanlah kasihmu, memberi lebih baik dripada menerima, meminta maaf terhadap kesalahan yang lupa tanpa pamrih adalah anugrah dan kasih terang Allah terhadap orang – orang besar, orang – orang yang juga berjasa dan mahasiswa yang walaupun pernah berbeda haluan namun satu tujuan karena Satya Wacana didirikan untuk melahirkan intelektual pelopor yang kreatif bukan pengekor pasar.

  2. ha, ha, ha wah apa kabar guru, kawan dan suara hati sudah lama tak berjumpa, dengar – dengar dunia lapar., lapar sesuatu yang benar, suara hati kemana pergi., apa yang kan kau suara kan (Iwan Fals).

    paradoks yo pa, 7 tahun ak belajar tidak saja ilmu tapi pola pikir, sejarah, gaya hidup, orang – orangnya dan sudah hampir 5 tahun lebih ak ga masuk ke kampus ternyata apa yang kamu bilang diatas sebagai tempat bersekutunya intelektual tapi kenyataannya kering dari kasih, yang mana seharusnya di kampus ini dasar dari pemikiran & laku civitasnya adalah Amsal 1:7a tapi “bukan takut akan Tuhan, bla, bla ” yang jadi penghayatannya tapi seringkali terjebak dalam ” takut akan uang, tidak populer dan takut penguasa adalah pengetahuan yang harus dipelihara” sehingga benar apa yang Amsal tuliskan kemudian” jika tidak ada wahyu, liarlah rakyat”, Satya sedang kehilangan visi pendidikan., dan jika seperti ini kondisinya maka berlaku juga guyonan masih Universitaskah Satya Wacana?., dan dari sejarah juga kita tahu bahwa kampus ini didirikan utk jadi saksi dan batu karang oleh founding fathersnya: Notohamidjoyo, Probowinoto, dan kawan2 yang terilhami oleh Abraham Kuypers (tokoh vreeij universitit, Belanda, seorang calvinis modern). jadi jelas Satya Wacana punya keunikan lain dibanding kampus kristen lainya, dulu katanya neh pelopor sistem sks, punya perpustakaan bagus se-Asia Tenggara, Indonesia mini, menjunjung tinggi demokrasi, dosennya kritis bahkan masih punya waktu diskusi dengan mahasiswanya dan info terbaru bekerjasama dengan google dalam teknologi komunikasi (boleh juga) tapi dari dulu sampai sekarang dalam amatan saya sedikit yang punya waktu utk bertatap muka, memanusiakan manusia / mahasiswanya eh malah sekarang maen teknologi lagi (jangan2 bales emailnya cuman: ok nanti liat atau ehm ide bagus itu ato km ketemu sya nanti jm 3 ya tpi pas jm yg ditentuin ternyata nga nonggol, bilang maaf aja nga ke mahasiswa), hadew ,
    Tetapi ada pertanyaan muncul, sampai sebegitukah Satya itu? saya berani menjawab: TIDAK !!! karena saya percaya masih ada batu karang (benih –benih) yang akan tumbuh di tanah yang subur., masih ada harapan dan harapan akan selalu ada bagi siapa saja yang terus beharap dan berbuat. Satya Wacana harus sudah berbenah, kalau mahasiswa Malaysia dan Korsel (yang umur negaranya ga jauh beda) sudah bisa buat pesawat untuk negaranya, jadi apa yang salah di segilintir group of interested Satya Wacana (jika dilihat dari sejarahnya)?., masih banyak dosen yang ga punya waktu utk diskusi, menghargai pemikiran dan karya mahasiswa. Mahasiswa terkadang hanya dianggap objek yang dijejali teori tanpa tahu arti penting sebuah nilai atau insannya., yang penting siap dipasarkan, padahal setelah lulus hanya ilmu, nilai diri yang aktif dan kompetitif, punya etika dan moral dan spiritual qustion yang bisa menyelamatkannya karena masalah gelar kesarjanaan dalam dunia pendidikan pasca Orba jatuh hanya menghasilkan keseragaman dalam setiap lulusannya di dunia kerja.
    Akhir kata, ada benarnya perspektif almarhumah Ibu Konta dalam kuliah ilmu ekonomi studi pembangunan, bahwa kemiskinan yang paling membahayakan menurut Amartya Zen adalah kita memang kaya, bau wangi, berbaju batik kedaerahan tetapi jika kita tidak bisa bercakap – cakap, penuh curiga dengan sesama., maka sebenarnya kita miskin dan sebagai manusia sosial yang pembelajar, kita harus banyak belajar dari tokoh – tokoh Satya Wacana yang sederhana, setia tapi otaknya guru besar, seperti: prof. Kutut Suwondo, yang sudah berpulang ke Bapa di surga, dapat dijadikan teladan, pribadi yang dekat dengan mahasiswa dengan senyumnya. Oh., Satya Wacana semaikanlah kasih agapemu, memberi lebih baik dripada menerima, meminta maaf terhadap kesalahan yang lupa tanpa pamrih adalah anugrah dan kasih terang Allah kepada orang – orang besar atau kecil, yang juga berjasa yang walaupun pernah berbeda haluan namun satu tujuan karena Satya Wacana didirikan untuk melahirkan intelektual pelopor yang kreatif bukan pengekor pasar.

  3. Cukup mengejutkan, Juragan Sunny mau berkunjung ke blog saya. Thanks berat juga buat komen nya. Ya ini adalah sedikit hentakan di setiap ujung jari saya, akibat respon mata dan pikiran yang menangkap ketidakberesan. Tidak lebih dari itu.
    Pastilah angan2 bos sunny dapat terbentuk ketika membaca sedikit uraian di atas. Yang pasti masih ada harapan untuk terus berbenah (meskipun kecil), bergantung dari pelaku2 di organisasi ini.

    • ha, ha, ha Pa., Pa isok wae, tapi serius pa ak tunggu2 dari dlu km nulis. ada kecederungan sekarang (dari sulu sih) klo dosen2 di PT itu positivis attitudenya (ngajar berlandaskan teori buku,.,.kring., kring trus pulang) jarang yang punya pengalaman koyo kowe Pa, btw ya ak percaya pasti perubahan selalu ada, bagaimanapun situasinya krena bangunan universitas itu benda mati tetapi yang dulu kwe bilang bahwa organisasi itu dibentuk oleh organum2 itu berarti ada detak nafas alias hidup jadi yang bisa membenahi ya si pelaku karena dia hidup. ak pernah liat acara di Alam TV, Soegeng SS, Slamet Raharjo show, kompas, natgeo, Indonesian Lawyers Club yang menarik, yaitu masih ada semangat utk duduk bersama berdiskusi dengan semua intra dan ekstra kampus (ga usa tlalu formil) ttg apapun yang penting ada tukar – menukar informasi, koyo to: di Spanyol dan Inggris seorang mahasiswa punya pertanyaan bagaimana cara mengatasi sampah plastik yang sulit diurai dan bermanfaat bagi lingkungan, alhasil diskusi tersebut menghasilkan produk palstik yang bisa mempercepat menjadi kompos dan akhirnya didirikanlah perusahaan, trus ak pernah liat anak biologi ma pertanian UKSW kerjasama dan akhirnya jualan yogurt fermentasi mereka yang juga menang lomba karya tulis karena idenya itu sebagai sumbangsih dalam perekonomian, sedehana tapi nyata dan berbuah. nah semangat ini dulu juga pernah dipunyai UKSW yang sekarang mungkin agak luntur dan nga terpublikasi akibat modernisme dalam jebakan industrialisasi kapitalis media di kalangan anak muda apalagi yang tua, nah UKSW menurutku masih potensial karena kampusnya terpadu dalam bingkai kotamadya. ok Pa nanti klo sempet ak pengen ketemu dan menurutku UKSW sudah lebih maju dari sisi tampilan, kemodernan tapi jati diri, keunikan harus tetap terang seperti pelita yang dinyalakan dari atas gunung, jaga kesehatan sobat dan terus berkarya, HIDUP GERINDRA, ha, ha, ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s