Keliru Memahami “Jual Beli Skripsi”


Menyoroti kembali proses pemilihan dekan, Satgas Pemilihan Dekan menggelar sebuah forum “dialog khusus”. Dialog tersebut digelar dengan nama open forum dalam rangka “pesta demokrasi” pemilihan Dekan. Terlintas dalam ingatan saya sejarah pengalaman pribadi selama saya menjadi bagian dari institusi, bahwa ini adalah acara proses dialog peralihan kepemimpinan fakultas yang melibatkan Mahasiswa dalam jumlah paling besar yang pernah saya ikuti.

Terlepas dari persoalan tersebut, terdapat sebuah topik yang disinggung oleh para calon dekan, yaitu “Jual beli Skripsi”. Siapa saja sepakat bahwa wilayah pengembangan manusia yang holistic (baca perguruan tinggi) diupayakan harus steril dari persoalan tersebut. Tidak ada alasan dan kompromi untuk tidak menuntaskan perosalan ini, karena “Jual beli skripsi” identik dengan pelacuran akademik. Tindak kejahatan luar biasa dalam dunia akademik, setara dengan plagiarism dan Joki evaluasi belajar. Saya secara pribadi sepakat jika persoalan ini disebut tindakan paling tidak terpuji dalam wilayah civitas akademika, bagi siapapun yang terlibat dalam “pelanggaran akademik” ini. Apalagi ketika Pendidik (dosen) terlibat di dalamnya. Ada pelanggaran etik fatal yang telah dilakukan jika Seorang Pengajar – saya tidak menyebut Pendidik, karena belum tentu semua pengajar adalah pendidik – terlibat dalam proses jual beli skripsi.

Namun amat disayangkan, pemaparan “idealisme” calon dekan tersebut belum bisa meyakinkan saya. Memang bisa dimaklumi jika solusi yang ditawarkan masih belum konkrit, karena memang rumit dan tidak mungkin hanya diselesaikan seorang diri dengan pemimpin fakultas siapapun.

Mengacu pada argumentasi Immanuel Kant, bahwa manusia tidak bisa dilepaskan dari sistem kausalitas (hubungan sebab akibat). Sangat relevan jika kita mencermati persoalan jual beli skripsi diurai dengan melihat hubungan sebab akibat.

Sangat mengganggu dalam pikiran saya, berdasarkan apa yang saya tangkap, cenderung menempatkan persoalan jual beli skripsi sebagai “sebab”, bukan “akibat” (maaf jika saya keliru memahami). Saya kira hal ini adalah “fenomena sesat pikir”.

Menurut saya, akan lebih bijak jika masalah jual beli skripsi ditempatkan akibat dari ada yang salah dalam proses pengajaran dan pendidikan. Dari titik inilah kita akan berpikir, akar permasalahan dan pokok persoalan apa yang menjadi sebab pelacuran akademik ini bisa terjadi. Entah karena ada yang tidak beres dengan kurikulum dan/atau Proses Belajar Mengajar (PBM) dan/atau para pendidik dan/atau peserta didik dan/atau manajemen internal fakultas dan/atau lingkungan sekitaran.

Tetapi saya sepakat jika ada argumentasi “tidak bisa serta merta kita mengambil langkah ekstrim untuk menyelesaikan masalah ini”. Memang lebih tepat jika “transaksi haram karya keilmuan” ini harus ditengok dari berbagai sudut pandang yang utuh. Jika tidak, maka persoalan  ini tidak akan tuntas dan menjadi-jadi, bahkan akan bermutasi membentuk pola kejahatan akademik jual beli skripsi yang baru. Ditambah lagi, namanya kejahatan seperti ini pasti modus operandinya mengendap-endap atau terkamuflase dengan berbagai istilah. Kemudian bisa saja para pelaku, baik demand maupun supply” sepakat untuk saling menjaga. (Semoga ini tidak terjadi di saya dan teman-teman saya…) Mari kita urai bersama-sama benang kusut ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s