Kontroversi Ala Karang Taruna


Mendadak kunjungan di Blog saya naik 10 kali lipat dari biasanya. Cukup mengejutkan dan membuat saya terheran-heran. Memang situs pribadi yang saya buat ini, cuman berisi curahan pikiran manakala mata menangkap kejadian. Kemudian dirangkai dalam tulisan-tulisan. Kita semua pasti sepakat, jika jumlah kunjungan dari sebuah situs itu bisa dihitung dengan jari, maka bisa saja situs tersebut tidak menarik dan bahkan tidak bermanfaat.

Namun setelah mengalami sebuah kejadian, kemudian mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan. Cukup mengejutkan, bahwa ternyata bisa menyita perhatian. Saya menganggap biasa saja tulisan saya, karena sebelumnya saya juga menulis dengan lebih panjang dan tema lebih “hangat”. Tapi biasa saja.   Berbeda dengan yang satu ini.

Setelah coba saya renungkan, apa yang menyebabkan ini terjadi dan mencermati perkembangan dampak dari tulisan tersebut (termasuk komentar dari yang mengatasnamakan “Aku”).  Saya membuat jawaban sementara dari situasi yang terjadi dengan satu kata, yakni “kontroversi”

Tulisan saya “kontroversial”, sehingga menarik perhatian segelintir orang. Kontroversi akan tampak dan lahir dari 2 titik ekstrim “wajar dan tidak wajar”. Ketika perilaku, sikap, ataupun materi hingga ide dianggap mendekati titik tidak wajar, maka dia mengandung kontroversi. Demikian pula sebaliknya.

Wajar-tidak wajar berlaku pula untuk aktivitas kehidupan sehari-hari. Keseharian / rutinitas yang dilakukan setiap hari menyebabkan nilai “kewajaran” muncul. Saat perilaku, sikap, ide dan materi berbeda dari rutinitas akan keseharian, maka muncul “ketidakwajaran”. Disinilah nilai kontroversi berlaku.

Jika sebuah argumentasi dari ide dicitrakan kontroversional, maka ketidakwajaran dari ide disematkan.  Kembali ke persoalan Tulisan saya dengan judul “Pemilihan Dekan Ala Karangtaruna”, menjadi kontroversi. Dari judul tersebut, persoalan sebenarnya jika dicermati yaitu ketidakwajaran dari Proses yang diidentikkan dengan sesuatu yang tidak wajar. Kontroversi dari ketidakwajaran ini kemudian menjadi-jadi ditambah dengan bumbu intepretasi yang berlebihan.

Bagaimana jika saya menggunakan rujukan pada “Pemilihan Dekan Ala UKSW”. Ini sedikit banyak akan menarik situasi ke arah kewajaran. Tidaklah cukup kontroversial. Dengan isi tulisan saya sebelumnya, pasti tidak akan mengundang perhatian. Bahkan tidak menyeret saya pada anggapan yang tidak gentle.

Oleh karenanya, berdasarkan pertimbangan tertentu, saya putuskan untuk tidak mempublikasikan tulisan saya. Tulisan kritik – otokritik masih dianggap ada di ruang ketidakwajaran. Meski keputusan ini lahir dari hipotesa singkat di atas, namun “Kontroversi” “Ala Karang Taruna” memberikan pencerahan tambahan : “Wajar – Tidak Wajar tidak berada di ruang hampa, tetapi berada di tempat yang relatif”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s