Persaingan dan Jaringan Sosial


“Relasi adalah Kunci Kehidupan”, sebuah sub judul dalam sebuah buku karangan  Agusyanto, 2010. Topik utama dari perbincangan jaringan sosial, modal sosial dan revolusi informasi. Cukup mengagumkan pada beberapa catatannya, terutama mengupas persoalan bagaimana sisi interaksi sosial dengan berbagai persoalan dan manfaatnya. Terkesan remeh-temeh, tetapi padat pengetahuan untuk menggiring pada kedewasaan berpikir.

Satu hal yang berhasil menarik perhatian saya adalah, bahwa ternyata interaksi
sosial yang membentuk jaringan sosial, dapat lahir dari “persaingan”. Akan tetapi, terdapat persyaratan-persyaratan yang tentunya harus dipenuhi. Pertama, persaingan harus menunjukan persaingan yang seimbang derajat kekuatannya. Jika tidak seimbang, maka yang terjadi adalah dominasi dan “pembantaian”.

Persyaratan  kedua adalah adanya ketentuan dan peraturan yang lahir dari kesepakatan bersama.  Asumsi yang dipakai dalam argumentasi ini menitikberatkan bahwa orientasi utama dari persaingan adalah menjadi pemenang berdasarkan ketentuan dan aturan yang ada. Jika tidak, maka yang terjadi adalah “chaos”. Guna memperkuat persyaratan kedua tersebut, diperlukan persyaratan ketiga pula, yakni perlunya sebuah instrumen yang termanifestasi keberadaan seorang wasit atau juri. Peran juri atau wasit (yang harus bisa dipercaya dan tidak memihak) menjadi begitu penting untuk mengawal proses yang ada sesuai dengan aturan yang ada, oleh karena sifat dasar manusia yang cenderung tidak patuh pada aturan apapun.

Teringat kembali ketika saya mengikuti sebuah perkuliahan di Fakultas Ekonomi, sekarang berubah nama fakultas ekonomika dan Bisnis (FEB). Ada sebuah argumentasi yang masih dipercaya sampai sekarang, bahwa ilmu ekonomi diperlukan untuk mengatasi dan mengantisipasi kelangkaan (scarcity) dan keterbatasan. Segaris dengan konsep jaringan sosial yang lahir dari persaingan atau kompetisi untuk memperebutkan sesuatu yang berharga – terbatas, maka tentu pula kita mencermati persaingan ini. Oikos dan nomos menjadi salah satu hal yang relevan, selain dibutuhkan juri dan wasit yang mumpuni. Utamanya untuk menciptakan relasi sosial tanpa ada dominasi dan pembantaian, serta chaos.  

Sangat indah pemikiran tersebut, tetapi sulit untuk direalisasikan. Sulit direalisasikan, karena sekali lagi, sifat dasar manusia yang cenderung tidak mau menuruti aturan apapun. Juri – wasit harus  “ekstra” berupaya, walaupun pemain mencuri-curi kesempatan menghalalkan segala cara untuk keluar sebagai pemenang. Semoga Tuhan menjauhkan hal ini dari kita……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s