Pemilihan Dekan Ala Karang Taruna


Ada sebuah stigma di masyarakat, jika jabatan di sebuah institusi perguruan tinggi merupakan jabatan mulia dan memiliki nilai sosial yang cukup tinggi. Hal serupa tentunya melekat di seseorang dengan jabatan sebagai Dekan. Latar belakang penilaian positif ini relatif beraneka ragam. Namun satu yang pasti, Dekan merupakan fasilitator institusi dan sivitas menuju kepada peningkatan kualitas. Kebijaksanaan atas dasar kadar keilmuan dan kepemimpinan menjadi

indikator penting dalam penunjukan Dekan sebagai nahkoda fakultas. Tidak hanya sekedar hasil dari dinamika organisasi yang beraroma politis atau berorientas kekuasaan sesaat.

Entah apa yang bisa dikatakan, manakala cara-cara ataupun mekanisme yang dibangun dalam pemilihan Dekan, berangkat dari mekanisme atau cara yang tidak cukup “cerdas”. Tentunya amatlah disayangkan, ketika hal ini terjadi.

Pengalaman ini saya dapati ketika saya mengikuti dan terlibat dalam sebuah proses pemilihan Dekan. Bukan bermaksud untuk mempersulit keadaan, atau bahkan mendramatisir persoalan, akan tetapi ini adalah bagian pembelajaran organisasi yang menarik dan menciptakan kedewasaan berpikir dalam berorgansasi. Terdapat beberapa hal yang saya cermati, dan ini bisa dikatakan sebagai otokritik kelembagaan.

Pertama, keberadaan Satgas Pemilihan, yang notabene dipilih secara khusus dalam forum rapat dinas, tentunya harus difungsikan secara proporsional dan profesional. Satgas dipilih bukan sekedar untuk membuat formulir, tempat mengambil formulir dan menampung kelengkapan administrasi belaka. Kemudian membuat laporan hasil kerja hasil pengumpulan formulir. Tidak ubahnya tugas Tata Usaha.

Kedua, keputusan penetapan bakal calon menjadi calon diputuskan dalam forum yang dipimpin oleh orang yang bukan satgas pemilihan. Jelas saya anggap ada kekeliruan. Idealnya, Satgas ataupun panitia pemilihan yang dipilih oleh karena integritas dan kredibilitasnya,  melakukan proses penyeleksian secara independen (tanpa tekanan ataupun intervensi dari manapun). Menyusun dan mencari mekanisme terbaik dalam penyeleksian dan proses pengambilan keputusan (baik secara musyawarah ataupun pemungutan suara). Memutuskan Bakal Calon menjadi Calon dan melaporkannya di dalam forum pengambilan keputusan tertinggi. Perlu dipastikan, hanya “melaporkan”. Memberikan tenggang waktu ataupun kesempatan bagi komplain dari keputusan yang telah diambil. (bukannya langsung dibacakan terus diputuskan. Gimana caranya mau mengupayakan pemilihan Pemimpin yang benar-benar layak, tidak memilih kucing dalam karung)

Selanjutnya, menggelar forum pemilihan Calon menjadi Ketua atau pemimpin Definitif. Apapun teknisnya bisa saja dibicarakan  dan dilaporkan kepada forum pengambilan keputusan tertinggi. Satgas Inilah yang akan melaporkan hasil pemilihan ke rektorat untuk ditindaklanjuti. 

Ketiga, tidak tampak mekanisme penjaringan calon untuk melihat keseriusan bakal calon mendaftar untuk berjuang menjadi Pemimpin. Pasti kita sepakat bahwa upaya / perjuangan yang dimaksud bukan berjuang mengejar jabatan semata, tetapi lebih condong bagaimana berupaya mengaktualisasikan dirinya menjadi seorang yang memiliki integritas untuk mengimplementasikan gagasan berdasarkan kadar keilmuan yang dimiliki. Salah satu contoh yang saya amati, Mengapa tidak ada persyaratan untuk penjaringan calon yang mendaftar menyertakan tulisan / papper / atau apapun istilahnya mengenai deskripsi gagasan / ide manakala terpilih menjadi Dekan, atau bagaimana manajemen fakultas di masa depan. Walaupun hal ini mungkin bisa saja disampaikan pada saat debat ataupun penyampaian visi misi, tetapi sebagai insan dalam wawasan almamater harus lekat dengan “tulis – menulis”. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator penilaian keseriusan dalam mengikuti proses pemilihan, bukan sekedar “coba-coba”.

Sebenarnya masih terdapat banyak hal yang tidak cukup elegan dalam proses pemilihan tersebut. Mohon maaf tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu, karena ini saya anggap sebagai otokritik. Proses pemilihan ini tidak ubahnya seperti pemilihan ketua karang taruna. Tetapi yah inilah kenyataan. Apatisme, keterdesakan, arogansi atau kesederhanaan? entahlah apa penyebabnya. Saya tidak cukup tahu akan hal itu….

Iklan

4 responses to “Pemilihan Dekan Ala Karang Taruna

  1. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak akan meng approve komentar tanpa identitas di topik ini. Tapi saya akan menanggapi, saya tidak pernah menyebutkan bahwa pimpinan melakukan intervensi. Dan saya katakan, saya tidak melihat itu. Tolong dilihat tulisan secara keseluruhan, jangan dipenggal kata per kata.
    Perlu di pertegas juga, saya tidak ada kepentingan diluar kepentingan untuk mensukseskan proses pemilihan dekan. Yang pasti, siapapun yang terpilih saya akan mendukung.

    Saya cuman mencermati bahwa Keberadaan Satgas dibentuk dan diupayakan secara penuh untuk independen. Hal ini dimaksudkan supaya tidak ada intervensi dari pihak manapun, sehingga mampu bekerja dengan baik, atas dasar ketentuan berlaku serta mampu menampung berbagai “kepentingan”.
    Jika dalam perjalanannya satgas cuma diperlukan untuk kepentingan administratif, ya mohon maaf, saya menganggap proses yang ada tidak sepenuhnya ideal. Idealnya menurut saya, adalah seluruh proses yang ada diserahkan kepada pihak2 yang dianggap memiliki kredibilitas, dan mampu mengemban misi ini secara bertanggung jawab. Sudah menjadi kebiasaan, proses pemilihan pemimpin disebuah institusi pendidikan seperti kampus yang kita cintai, diperlukan sebuah “instrumen” yang mampu menyerap dan menampung seluruh kepentingan (tentunya yang bertanggung jawab) dengan prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan.

    Untuk itulah, pemikiran saya, kembalikan sepenuhnya proses pemilihan ke Satgas. Toh mereka sudah dipilih secara “demokratis” dan cukup kredibel untuk mengemban misi ini.
    Untuk hal-hal yang lain saya menganggap ini sebuah kegelisahaan yang perlu untuk disampaikan, menjadi ruang diskusi yang konstruktif bagi semua kalangan, dengan tidak mendiskriditkan pihak-pihak manapun, karenan saya tahu, bahwa “tidak ada ruang dan waktu yang benar-benar otonom” .

  2. Terima kasih atas tanggapannya, dan sekali lagi saya mohon maaf, saya tidak menampilkan komentar anda, karena tidak jelas identitasnya, takutnya menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Ya kalau memang butuh diskusi dengan saya dan tidak ingin diketahui oleh publik, saya membuka diri. Banyak orang tahu dimana saya tinggal, juga banyak orang yang tahu no hp saya.

    Tetapi menurut hemat saya, terlalu berlebihan mengatakan saya tendensius tidak menyepakati satu calon. Ya kalau tulisan saya dianggap sebagai ungakapan tendesius, saya ingin mengatakan ada yang salah memaknai argumentasi saya. Saya mengatakan “ala karang taruna”, ini ungkapan “fenomenologis” karena saya pernah melakukan pendampingan anak muda selama saya masih bergelut sebagai mahasiswa dan aktivisme, bahwa pemilihan ketua karang taruna prosedur dan mekanismenya hampir mirip dengan kejadian yang saya alami. Utamanya penentuan calon yang akan dipilih secara aklamasi hampir mirip. Hal yang sama juga pernah saya alami ketika mengikuti pemilihan ketua RT, juga hampir mirip.
    (Awalnya saya ingin menulis “ala pemilihan RT”, takutnya menyinggung banyak ketua RT dan kadang RT prosesnya lebih)

    Kalau memang itu menyakiti hati pihak-pihak tertentu, ya mohon maaf. Saya tidak pernah punya keinginan untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, bahkan kedua calon yang telah diputuskan. Sekali lagi yang saya sesalkan :
    1. mengapa satgas harus ada?
    2. jika satga ada, mengapa mekanisme/ proses pembuatan keputusan bakal calon dan calon harus seperti itu?
    3. Mengapa mekanisme penjaringan hanya seperti itu? serius tidak kita membangun kultur yang baik.
    (dimana tendensius saya? wah….tampaknya saya mulai digiring ke ranah yang bukan urusan saya. Mengerikan juga!!!)

    Jadi begitu bapak/ibu/saudara, mungkin bisa juga dibaca tulisan pendek saya dengan judul “Persaingan dan Jaringan sosial”. Mungkin ada sedikit tambahan pemahaman. Saya berangkat dari angan-angan untuk kebaikan fakultas. biar tidak ada istilah, dalam konsep social network, ada dominasi dan “pembantaian”, karena tidak berimbangnya “derajat kekuatannya”. Persaingan yang harusnya menghasilkan social capital, malah menghasilkan dominasi.

    Kalau kita mau melihat filosofis kenapa harus ada KPU dalam Pilkada? minimal persaingan yang ada dalam memperebutkan jabatan politis dimulai dengan keseimbangan derajatnya. keseimbangan mensyarakatkan perlunya aturan dan mekanisme. kemudian ada instrumen yang mengawal dan independen sifatnya… bukan begitu (ala KPU). Ya kalau memang inginnya karang taruna, ya itu pilihan kita semua. Hidup itu harus memilih.

  3. Oh ya…satu lagi saya lupa. Kalau saya dianggap tidak gentle, atau apapun istilahnya, saya terima. Saya sudah berupaya bicara di forum, tapi memang forum keliatannya tidak terlalu “suka” dengan topik yang saya angkat. Dan jawabannya juga paling bisa ditebak. Entah tidak suka yang prosedural atau maunya praktis2 aja. Saya tidak tahu.
    Media ini saya anggap sebuah media untuk menuangkan apa yang ada dalam benak saya . Kalau memang itu menjadi singgungan bagi berbagai kalangan, ya mohon maaf, saya siap kok diajak diskusi. Toh bukan hanya masalah Fakultas yang ada dalam tulisan-tulisan saya.
    Selanjutnya identitas saya di media ini cukup jelas. kalau butuh no hp bisa saya kasi. Artinya saya menulis dengan identitas saya dengan jelas. Jadi kalau mau diajak diskusi atau bertukar pikiran bisa dilakukan. Kalau itu dikatakan tidak gentle, lha terus yang menulis dengan NN disebut apa ya?

  4. khan bisa belajar dari proses pemilihan dekan dari fakultas lain yang sudah mapan “sistem”-nya,
    pengalaman sendiri adalah guru terbaik, dan pengalaman orang lain adalah guru yang baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s