Menjadi Kerikil dalam Sepatu Anggota DPR


Entalah, kata apa yang cocok lagi kita sematkan kepada para oknum yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), manakala mereka melakukan tindakan pemerasan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pastilah umpatan dan makian yang kita (baca : masyarakat) keluarkan dari mulut, akibat kegeraman yang tidak terkira. Itu wajar dan manusiawi, karena figur-figur anggota DPR dinilai sebagai orang yang memiliki integritas dan kapasitas, yang diharapkan dapat menyuarakan kepentingan masyarakat dengan lebih kritis.

Terlepas dari persoalan benar tidaknya tindakan pemerasan tersebut, namun ada yang perlu dilihat lebih jauh pada “keberanian” Pak Dahlan Iskan untuk mengangkat persoalan ini ke Media. Banyak anggota DPR yang merespon, baik dengan diplomasi yang baik dan yang arogan. Tidak sedikit pula dari kalangan DPR yang marah kemudian mengkait-kaitkan dengan masalah Pak Dahlan Iskan ketika masih menjabat sebagai Dirut PLN. Sederhananya persoalan yang terjadi mulai melebar, dan mencari bentuknya yang utuh.

Tanpa bermaksud menilai berlebihan dari tindakan Pak Dahlan Iskan, ada sisi baik dari tindakan tersebut , meskipun kurang “elok”. Kekurangelokan itu karena sebagaian pengamat mengatakan, “mengapa tidak di laporkan ke KPK saja?”. Ungkapan itu ada benarnya, karena telah ada institusi khusus yang memang ditugaskan untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti itu, dalam hal ini KPK.

Sisi baik dari apa yang menjadi keputusan Pak Dahlan Iskan untuk melemparkan persoalan ini ke Media adalah sebenarnya wacana ini sudah menjadi rahasia umum. Sudah berlangsung bertahun-tahun, jika BUMN itu menjadi “lahan” bagi para wakil rakyat. Sistemik dan membudaya, hingga akhirnya dianggap wajar dan sudah biasa. Memang sulit membuktikan, tetapi rakyat sudah peka dengan tindakan manipulatif tersebut.

“Menjadi kerikil dalam sepatu DPR”, ungkapan yang relevan untuk Pak Dahlan. Terlepas dari persoalan hukum, bersalah atau tidaknya oknum anggota DPR yang dituduh, tetapi melihat respon yang terjadi dari anggota-anggota DPR (meskipun tidak bisa di generalisir) tampak kegusaran dan ketidaknyamanan. Kenapa gusar dan tidak nyaman jika mereka tidak bersalah dan tidak melakukannya? Toh… tidak sedikit masyarakat yang sudah melihat dan mendengar catatan sejarah dari kejujuran dan kesederhanaan Pak Dahlan Iskan. Menyoalkan kepercayaan di antara keduanya, tentulah berat sebelah….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s