Utopia, Hidup Sejahtera yang Merata


Sesaat setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang Guru Besar FE UKSW, dengan Judul Neo-liberalisme dan Neo-sosialisme, dalam sudut pikiran saya mulai muncul sebuah respon balik. Respon berbentuk pertanyaan-pertanyaan, yang muncul karena ternyata kita sedang berada pada dunia yang terus berusaha untuk “sempurna”. Sayangnya, keadaan (Entah Walfare State ataupun Social State) yang diidamkan tidak kunjung tiba, yang ada hanyalah kontradiksi dalam sebuah dialektika yang tak berujung pangkal.

Contoh simple, Kehadiran “Reagenomics dan Thatcherism“, oleh sebagian orang dianggap sebagai obat mujarab bagi krisis ekonomi yang tejadi di akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an. Persoalan efisiensi pasar yang digembar-gemborkan melalui reduksi intervensi pemerintah dalam kebijakan fiskal dan kebebasan seluas-luasnya kepada individu untuk berperan di pasar, menjadi trend disosialisasikan ke Negara-negara sedang berkembang. Neo-liberalime dipropagandakan layaknya angin surga yang akan menyegarkan dan mensejahterakan sebagian besar umat manusia.

Tapi apa lacur, hingga sekarang angin surga yang ditawarkan tampaknya belum benar-benar menjadi angin surga. Bahkan tidak sedikit negara sedang berkembang mengalami “angin topan” yang memporakporandakan tatanan ekonomi mereka di penghujung abad ke 20. Menjadi teringat dengan ungkapan seorang teman saya, “Apapun tidak akan pernah menjamin apapun” saat kita berhadapan dengan kenyataan hidup. Sangatlah wajar ketika ada kelompok yang mempertanyakan kegagalan konsep penataan ekonomi tersebut.

Realitas kehidupan mutlak akan selalu menunjukkan dua sisi ekstrim yang terus berinteraksi menciptakan keseimbangan. Menarik pemikiran dari filosofis tersebut, ketika kita melihat ada satu wilayah yang sejahtera, di sebelah sisi yang lain akan terlihat kebalikaannya. Artinya, saat kita berdiskusi tentang kesejahteraan dan kemakmuran, sebenarnya disaat itulah kita akan memberikan ruang untuk “pemiskinan” terjadi. Makanya tidaklah aneh sosialis utopia muncul kepermukaan mempertanyakan paham kapitalisme.

Disinilah kita sama-sama diperhadapkan pada persoalan yang tak akan berujung. Ketika impian indah penataan ekonomi dalam sebuah sistem sosial ataupun sistem ekonomi pasar yang mengedepankan privatisasi dan liberalisasi pasar digembar-gemborkan, kesemuanya akan menuai pro dan kontra. Sehingga benar adanya kita, keabadian itu utopis dan kefanaan adalah yang hakiki.

Iklan

3 responses to “Utopia, Hidup Sejahtera yang Merata

  1. Utopia= guiding star (bintang pemandu).

    Setuju?

  2. Alo opa, pa kabar? Kalo menurutku gak adil jika kita cuma melihat dari kaca mata ilmu ekonomi saja. Sebab kalau kita mau menilik lebih lanjut, sosilalisme, liberalisme, neososialisme, maupun neososialisme, berasal dari rumpun pemikir-pemikir dengan latar belakang yang berbeda. 99.99% pemikir neoliberalisme itu berpredikat ekonom, lihat saja orang-orang Chicago School (Milton Friedman dkk), Austrian School (Hayek dkk), atau Cambridge School (Stiglitz,dkk). Sedangkan pendukung neososialisme datang dari latar belakang ilmu sosial yang beragam, dipunggawai biasanya oleh The Historical School dan Frankfurt School. Nah, menurut pendukung neoliberalisme, mereka pendukung The Historical School dan para Institutionalis bukanlah ekonomi, contoh Max Weber, Wilhelm Roscher, Gustav von Schmoller, Werner Sombart, Friedrich List, William Whewell, Richard Jones, and Walter Bagehot. Mereka dicap sebagai sosiolog atau antropolog. Amartya Sen masih beruntung dicap ekonom dan menang nobel ekonomi. Tapi kita juga mesti ingat kalo Sen menang nobel bukan karena dia ngebuat Human Development Index tapi karena formulasi ekonometrika Social Choice Theory-nya dia.

    Para ekonom percaya kalau manusia itu rasional, homo economicus alias the rational economics man. Jadi menurut mereka, karena manusia adalah mahluk rasional, berikanlah kebebedasan sepenuhnya kepada mereka untuk bertindak rasional, jadi jangan ada intervensi karena intervensi pemerintah irasional. Sedangkan buat mereka yang dicap bukan ekonom oleh para ekonom neoliberal mengatakan manusia itu pada dasarnya tidak rasional dan karena ketidakrasionalan itu, menjadikan mereka cenderung serakah. Untuk itu, para antropolog dan sosiolog ini menghimbau pemerintah, yang mereka anggap setidaknya lebih rasional dari kumpulan-kumpulan manusia yang irasional, untuk melakukan intervensi merasionalkan ketidakrasionalan penduduknya.

    Ada lagi Keynesian dan post Keynesian, yang bermain di daerah abu-abu, yang berpikiran manusia itu kadang-kadang rasional, kadang-kadang gak, hahahahahahaha.

    Setahuku kalo ilmu ekonomi itu sejak Alfred Marshal pada dasarnya bukan ilmu tentang manusia lagi. Itu kenapa Marshal mengubah teminologi Political Economics menjadi hanya Economics. Yup, dulu ilmu ekonomi yang kita kenal saat ini berada dibawah political science. Ilmu ekonomi sejak Marshall menjadi ilmu tentang Supply dan Demand, ilmu tentang harga dan kuantitas, ilmu tentang pajak dan moneter. Ekonomi sekarang itu adalah ilmu tentang uang. Itu sebabnya ilmu ekonomi tidak lagi mau digolongkan ke dalam ilmu sosial. Hampir diseluruh dunia, fakultas ekonomi tidak berada lagi di bawah domain Faculty of Arts (arts yang dimaksud bukan kesenian tapi Liberal Arts). Sarjana Ekonomi di luar negeri bukan lagi bergelar BA atau Bachelor of Arts, tapi Bachelor of Economics atau Bachelor of Economics and Commerce.

    Ya kesimpulannya, wajarlah kalau ilmu ekonomi sebenarnya gak peduli-peduli amat masalah pemerataan, masalah hak asasi manusia, atau masalah-masalah sosio-budaya lainnya. Itu kenapa tadi diawal aku mencap Opa gak adil jika melihat hanya dari kaca mata ilmu ekonomi saja. Kecuali, tentu jika Opa adalah seorang ekonom (hahahaha, produk UKSW pula), maka aku gak bisa komen apa-apa lagi. Sebab banyak faktor-faktor sosio-budaya sebuah negara yang luput dari pandangan kebanyakan ekonom, baik dunia maupun Indonesia. Ekonomi melihat faktor-faktor itu sebagai, meminjam istilah dosen-dosen ekonomi di Satya Wacana, Cateris Paribus.

  3. Oya sorry kelupaan. Btw, kemerataan secara filsafat itu gak mungkin. Hidup pada dasarnya timpang atau unbalance. Tapi justru karena ketimpangan itu terjadi balance. Coba Opa bayangkan, apa yang terjadi jika 14 tahun lalu negara-negara di Asia gak kena krisis ekonomi? Aku berani taruhan dampak krisis Amerika dan Eropa yang kemaren akan lebih parah untuk dunia. Gak ada capital flow, gak ada production flow, karena semua negara benar-benar tersumbat aliran distribusinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s