Euro 2008 : Eksploitasi Besar-besaran terhadap Bangsa Penonton


Revolusi Industri yang terjadi pada akhir abad 18, telah berhasil me-reform peradaban ekonomi di dataran eropa. Tak terkecuali, Paradigma ekonomi yang berpondasikan industri padat karya, diformat ulang menjadi industri yang padat mesin dan teknologi. Meski terdapat ekses negatif yang dimunculkan, akan tetapi sebagian besar mahluk berakal telah merasakan kenikmatan dampak dari sejarah dunia ini. Tentunya, Ekonomi yang kapitalistik semakin dipercayai akan memberikan kesejahteraan dunia.

Tetapi tunggu dulu!, bagaimana dengan kesejahteraan yang merata? sudahkah ada kejelasan mengenai ekonomi kapitalis berhasil menggerakkan mesin kesejahteraannya di Bottom of the Pyramid (dli. masyarakat miskin di negara sedang berkembang)?. Trickeldown effect masih harus dipertanyakan, karena ternyata masyarakat di negara sedang berkembang hanya menjadi penonton yang duduk manis, terhipnotis dengan kemegahan dan kemapanan ekonomi negara maju.

Industrialisasi Sepak Bola

Euro 2008, Pagelaran sepak bola akbar di dataran Eropa baru saja usai. Spanyol, negara yang memiliki industri sepak bola yang maju pesat dan berhasil bersaing dengan Premier league Inggris, berhasil menjadi kampiun. Jerman yang sering menjadi barometer persepakbolaan dunia, didudukkan di kursi runner up. Sontak seluruh masyarakat Spanyol turun ke jalan menggelar pesta bagi kemenangan Tim kesayangannya yang haus gelar. Bagaimana tidak haus, sejak 44 tahun silam mereka tidak memiliki gelar apa-apa di kancah sepak bola eropa.

Mengutip ungkapan The Los Angeles Sports and Entertainment Commision pada tahun 2003, mengklaim bahwa rata-rata dampak ekonomi suatu event olahraga akbar terhadap kota yang menyelenggarakannya mempunyai nilai sebesar US $32,2 juta, atau 293 miliar rupiah. Terlepas dari itu, jelas bahwa penyelenggaraan event olah raga merupakan bisnis yang menggiurkan, tidak terkecuali, event sepak bola diyakini menjadi industri bisnis yang berprospek, dengan asumsi pengelolaannya harus benar-benar profesional dan “disiplin”.

Tengok saja, diperkirakan 300 juta uero berhasil diraup sebagai keuntungan oleh “panitia penyelenggara”. Jika dikonversi ke rupiah, hampir mendekati 4,5 triliun. Angka yang cukup fantastik ini pasti berbeda jauh ketika Indonesia menyelenggarakan Piala Asia 2007 (meskipun sampai sekarang tidak tahu berapa besar pemasukannya, alias tidak ada transparansi).

Terlepas dari itu, Gebyar kemegahan kompetisi sepak bola Euro 2008 memiliki fenomena yang menarik, jika mau kita lihat secara mendalam, terutama jika kita lihat dan kaitkan dengan tatanan ekonomi dunia. Hegemoni ekonomi di dataran eropa ternyata masih terlalu kuat dan berhasil membius hingga negara dunia ketiga dari benua lain. Di dukung dengan kemajuan teknologi Informasi, hampir seluruh mata sempat melihat kemegahannya, tak terkecuali Indonesia. Industrialiasasi sepak bola semakin menjadi-jadi.

Kehadiran Euro 2008 di rumah-rumah masyarakat Indonesia melalui tayangan langsung oleh beberapa stasiun televisi, diyakini memberikan efek-efek teretentu. Euro 2008 yang diselenggarakan dibelahan dunia lain, terasa dekat sekali. Disadari atau tidak, eksplotasi besar-besaran telah terjadi disitu, baik di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Bagaimana tidak, Berapa besar biaya yang harus diberikan oleh stasiun televisi nasional untuk dapat menyiarkan secara langsung setiap pertandingan. Tentunya tidak sedikit, meskipun ada sponsorship dan “kapitalis lokal” yang mendukungnya.

Ketika Austria dan Swiss meraup keuntungan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bagaimana dengan kemanfaatan yang diterima oleh bangsa Indonesia ataupun negara-negara dunia ketiga lainnya. Tidak lain dan tidak bukan,  Sekedar menjadi tontonan hiburan disela-sela kepenatan aktivitas sehari-hari.  Meskipun ada kegiatan-kegiatan ilegal yang dapat dikaitkan dengan penyelenggaraan Euro 2008, sekali-lagi bisa saja semakin menggemukkan para pemilik modal.

Untuk sementara dapat disimpulkan, ketika sepak bola menjadi sebuah entertainment yang menghibur, industrialisasi sepak bola menjadi sebuah keniscayaan. Dengan Fenomena menarik sepak bola kedalam ranah bisnis multinasional, akan semakin kentara dan jelas hegemoni dan eksploitasi besar-besaran oleh negara maju kepada negara-negara dunia ketiga. Melalui hipnotis “pencintaraan kemapanan”, yang dilakukan oleh negara-negara maju, manusia di negara-negara lainnya terbius dengan rayuannya. Tidak sadar, bahwa ternyata mereka hanyalah menjadi bangsa penonton yang baik dan sedang dieksploitasi.

Iklan

2 responses to “Euro 2008 : Eksploitasi Besar-besaran terhadap Bangsa Penonton

  1. wah kalo saya merasa, kata eksploitasi itu kok terlalu gimana gitu….
    agak terkesan sirik dengan kelebihan orang lain dalam hal ini bangsa eropa dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola
    menurut saya mereka saat ini hanya memanfaatkan kelebihan mereka saja. sebuah kelebihan yang dibangun ssecara sistematis dari puluhan tahun lalu. kalo kita membaca sejarah piala eropa, turnamen itu tidak otomatis sukses dan besar seperti sekarang ini. perlu proses yang panjang dan berliku. perubahan formatpun terjadi beberapa kali. itu semua bukti kerja keras mereka. dan menurut saya itu sangat patut dihargai dan diberi apresiasi kecil. dan daripada meributkan soal eksploitasi itu, lebih baik kita belajar dari mereka yang saat ini memang lebih maju beberapa langkah dari kita dalm penyelengaraan turnamen sepakbola. tentu saja adalah impian kita bersama agar turnamen sepak bola kita bisa semaju mereka. seorang kenalan saya pernah berkata pada saya, jika kita ingin meraih sesuatu, belajarlah dari yang sudah mengalami. bunda theresa juga pernah bilang bahwa dari pada mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan sebatang lilin. semoga suatu saat persepakbolaan kita bisa semaju negara – negara eropa. maju terus sepak bola indonesia.

  2. @ Noe : Yups komentar yang bagus. Tapi kita memakai kacamata yang berbeda untuk mengangkat masalah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s