Prof. Mudrajad Bicara tentang Entrepreneurship dan Korupsi


Apa jadinya ketika beberapa punggawa pemerintahan berkumpul dalam satu seminar, dengan topik Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal? Jika kita sering bersinggungan dengan mereka, tentu kita akan dengan mudah menjawab bahwa pada sesi tanya jawab akan terdengar “omongan manis” dan hebatnya model yang telah dibangunnya. Itulah suasana yang saya rasakan pada seminar di Kayu Arum Lounge & Spa, 7 Mei 2008. Semuanya lahir untuk kepentingan-kepentingan tertentu, atau yang lebih sering kita dengar sebagai kepentingan sektoral.

Seminar dengan topik “Penyusunan Kebijakan Strategis Permerintahan Daerah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”, sebenarnya cukup menarik untuk disimak. Apalagi saat Prof. Mudrajad memberikan wejangan-wejangan. Akan tetapi sayang, setelah memasuki sesi tanya jawab, berubah menjadi “pidato-pidato indah” dari para pejabat daerah. Meskipun ada beberapa yang secara polos bertanya hal-hal apa saja yang harus dilakuakan kepada pembicara. Jika mendengar terutama dari salah satu pimpinan BUMD di Salatiga (tidak perlu menyebut merk), mulai muncul kegelisahan dalam diri saya, apa betul semua pidato itu cukup bisa dipertanggungjawabkan ketika kita melihat realitas dilapangan? sangatlah memuakkan!!!

Prof. Mudrajad Kuncoro juga sempat mengingatkan masalah itu. Akan tetapi, beliau mengingatkan bahwa jika kepentingan sektoral yang di kedepankan, maka pemerintah lokal tidak akan pernah menghasilkan sebuah karya nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut, Guru Besar termuda FE UGM menganjurkan bahwa setiap jajaran pegawai pemerintahan harus memiliki jiwa entrepreneur. Jiwa yang tidak kenal menyerah, pantang putus asa, jeli, kreatif dan inovatif perlu dimiliki oleh Pegawai Pemerintahan. “jangan pernah berkata how are we doing ? tetapi berkatalah what are we to do next?. Penekanannya adalah pada sikap inovatif yang harus dimuncul-kembangkan. Tanpa hal tersebut, sangat sulit suatu daerah akan berkembang, maju dan survive menghadapi tantangan global.

Selain itu, Prof. Mudrajad juga menyerukan bahwa untuk suksesnya pertumbuhan ekonomi disuatu daerah, perlu dilakukan reformasi birokrasi, implementasi e-goverment dengan efektif serta tindakan konkrit (not just talk only). Hal ini diwanti-wanti salah satu tujuannya adalah untuk mengeliminir biaya ekonomi dari masuknya investor baru. Masuknya para investor tentu saja kana berdampak kepada pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Penyakit “multilevel korupsi” juga sempat disinggung. Yang sangat menarik perhatian saya adalah, prof Mudrajat memaparkan bahwa hampir sebagian besar terjadinya korupsi didaerah terjadi berturut-turut adalah pada saat Tender Proyek, rekrutmen PNS, Penyusunan APBD dan Penyusunan Perda. Secara tidak langsung ini menunjuk dengan jelas siapa saja yang termasuk sebagai pelaku.

Bp. Mulyadi, SE., sebagai penanggap utama dalam seminar tersebut juga memberikan banyak sekali masukan kepada para peserta seminar, yang sebagian besar adalah pegawai dari dinas-dinas pemerintahan serta BUMD. Beliau sebagai salah satu entrepreneur sukses di Salatiga membagikan berbagai pengalamannya, termasuk saat bersinggungan dengan instansi pemerintah. Semoga seminar ini dapat menjadi masukan yang baik dan ada langkah-langkah konkrit….

Iklan

2 responses to “Prof. Mudrajad Bicara tentang Entrepreneurship dan Korupsi

  1. Jiwa Entrepreneurship harus selalu diasah, dipupuk, dan dikembangkan baik di kalangan birokrasi, terlebih para praktisi bisnis dan tak kalah penting untuk para generasi penerus. bagaimana tidak penting penumbuhkembangan jiwa entrepreneurship ini, bayangkan semua kebutuhan kita mulai dari [pangan, sandang, dan papan serta kebutuhan tingkatan selanjutnya itu dihasilkan dari buah karya dan kerja nyata, bukan sekedar berwacana sebatas seminar/lokakarya dan sejenisnya. semakin banyak entrepreneur di negeri ini (yang bersasal dari anak negeri) maka semakin sejahteralah rakyatnya dan kuat bangsa ini. Jangan ragu-ragu berusahalah sekuat mungkin untuk menjadi pengusaha dalam skala dan sektor/bidang yang sesuai dengan keadaan kita, karena entrepreneur adalah pahlawan tanpa tanda jasa bidang ekonomi. salah satu mengapa negeri ini tidak lekas keluar dari krisis ekonomi adalah karena mental kita (pejabat dan rakyat) yang tidak/kurang memiliki jiwa ini. Indonesia hanya memiliki 0,018 % wirausaha (dari Total angkatan kerja) sementara negara-negara maju memiliki wirausaha 0,2 %, sementara Sinapura 7 % wirausaha dari total angkatan kerja negaranya. Salah satu kita bersepakat mendirikan negara adalah bukti keinginan untuk mandiri dan mengatur urusan pemerintahan secara independen, maka wajib bagi kta untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur bagi setiap warga negara. jangan sampai kita secara kasat mata bernegara, namun tidak berdaulat terutama bidang ekonomi dan politik serta hankam.
    Tks, buat direnungkan : Jumadi AG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s