Keprihatinan Mendalam Untuk LK-FTI


Minggu, 4 Mei 2008, di selenggarakan kegiatan penyegaran sekaligus pengkaderan Lembaga Kemahasiswaan, Fakultas Teknologi Informasi, UKSW. Pada kesempatan itu pula, saya diundang untuk memberikan sebuah topik materi untuk acara baik tersebut. Saya menganggap baik, karena dalam pikiran ini terbersit harapan bahwa keberadaan Lembaga Kemahasiswaan (LK) dapat menjadi wadah yang representative untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan mahasiswa dalam konteks pengelolaan organisasi.

Menjawab surat undangan tersebut, saya meluangkan waktu, menyiapkan segala sesuatu sebaik mungkin, agar kehadiran saya mendatangkan manfaat bagi seluruh peserta kegiatan. Materi saya siapkan sekaligus dengan strategi penyampaian materi tersebut saya tata sedemikian rupa. Berdasarkan info awal yang saya peroleh mengenai profil dan jumlah peserta, maka untuk lebih mendaratkan materi dengan baik kepeserta, saya menyiapkan beberapa simulasi yang diakhiri dengan diskusi. Itu rencana saya.

Rencana tinggal rencana. Sedikit kaget juga saat waktunya tiba saya harus menyampaikan materi. Semua tidak sesuai dengan info yang saya peroleh. Klarifikasi kepada panitia coba saya lakukan untuk mengetahui mengapa kegiatan tidak sesuai dengan rencana semula. Kesimpulan saya, tidak untuk melebih-lebihkan gambaran situasi, saya menilai kegiatan “penyegaran” bagi para fungsionaris lembaga dan “pembekalan bagi para kader lembaga dipandang hanya sebelah mata. Acara mulia ini ditinggalkan begitu saja oleh peserta, karena alasan tertentu. Dan saya kira tidak terlalu penting atau masih ada orang lain yang bisa mengerjakannya. Hal inilah yang membuat saya gusar.

Jika demikian adanya, dapat saya gambarkan kinerja dari lembaga. Hampir disetiap organisasi, pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai organisasi oleh sumber daya manusia organisasi itu sendiriadalah sesuatu yang penting dan tidak bisa diabaikan. Terlebih lagi bagi kinerja dan tata kelola organisasi oleh seluruh komponen organisasi. Dengan demikian, jika kegiatan semacam reorientasi atau pembekalan, ataupun lainnya, diabaikan begitu saja, dapat kita tebak bahwa lembaga kemahasiswaan akan mengalami disfungsi, sebagai akibat nihilnya pengetahuan terhadap lembaga. Selanjutnya akan bermuara kepada matinya lembaga kemasiswaan sebagai “student goverment”. Semoga saja saya salah!

Iklan

6 responses to “Keprihatinan Mendalam Untuk LK-FTI

  1. wah…wah…

    saya turut prihatin….

    hahahaha…

    *prihatin tinggal prihatin*

    tanya kenapa?

  2. Semakin berganti periode fungsionaris kog makin ngawur aja, kinerja bukan semakin membaik malahan semakin menurun saja..CMIIW

    Betul-betul sangat memprihatinkan, jadi seolah-olah harus muncul pertanyaan yang paling mendasar.

    Anda itu masuk LK tujuannya apa?

    1. Melayani mahasiswa kah
    2. Pelarian kah
    3. Malas kuliah kah
    4. Buat gaya-gaya an kah karena merasa sebagai pejabat
    5. Cuma pengen ngadain event kah [event organiser kaleee yeee…]

    ^ ^ tanya kenapa ??? [pertanyaan yang pas]

  3. wah… bapak ini macam gak tau aja LK tu gmn
    tu kegiatankan cuma bwt formalitas
    soalnya udh rutin tiap taon
    ank2 Lk itu ngerasa sukses itukan klo udh bikin eventnya lbh banyak dr periode sebelumnya
    jd acaranya ya asl2an gitu dech
    saya tu jg ikutan tu acara LDKM
    tapi saya mao ikut cuma saya cuma tau outbondnya aja
    ( kata panitinya cuma ada seminar sebentar sblm brangkat )
    dan saya yakin sebagian peserta lain jg begitu
    jadi dengan terpaksa dan setengah frustasi ( krn udh kadung mbayar )
    saya ikutindeh dua hari panjang dan melelahkan itu
    tp terus terang aja, khotbah bapak waktu betul2 menyegarkan jiwa & pikiran
    penuh canda tawa di tgh2 seminar2 yg membosankan
    sukses teru aja bwt pak Rudy

  4. LK FTI seakan-akan tidak ubahnya seperti negara tetangga kita, dan dengan persamaan yang ada sebaiknya jalan / keputusan yang harus diambil dengan tepat adalah ‘REVOLUSI’ !!!

    Entah sebenarnya seberapa besar minat para mahasiswa itu untuk ikut ambil bagian dalam suatu organisasi serta tujuan apa yang sebenarnya akan mereka capai, mungkin itu merupakan pertanyaan mendasar yang harus dipertanyakan serta dijawab dengan akal pikiran serta hati yang bersih [halah…komentar po puisi]

  5. rudylatuperissa

    @HNR : benar juga, seharusnya lembaga kemahasiswaan (LK) adalah wadah mahasiswa yang ideal bagi pembelajaran. Masalahnya, terjebak dengan permasalahan rutinitas dan hal-hal non teknis lainnya. Akhirnya, LK menjadi lembaga yang anti dengan pembelajaran (seperti yang henry sebutkan).
    Soal apatisme mahasiswa untuk terlibat di LK, kalo saya melihat ini lebih dikarenakan LK tidak mampu menjadi lembaga yang memberikan kemanfaatan bagi mahasiswa. Meski sedikit utopis, namun harusnya lembaga harus bisa menawarkan sisi kemanfaatan bagi mahasiswa, melalui tugas dan fungsinya.
    Bagaimana lembaga bisa menjadi lembaga yang bermanfaat bagi mahasiswa, kalo keberadaannya tidak dipahami dengan benar oleh para pemangku jabatan di LK.

  6. semoga setelah membaca tulisan dari Bapak, para penghuni LK akan tergugah hatinya untuk melakukan perubahan dalam pelayanannya kelak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s