Kebangkrutan Identitas Intelektual


Kaum intelektual bukan sekedar bagian dari bangsanya. Iapun nurani bangsanya, kerana bukan saja dalam dirinya terdapat gudang ilmu dan pengetahuan, terutama pengalaman bangsanya, juga ia dengan isi gudangnya dapat memilih yang baik dan yang terbaik untuk dikembangkan, memiliki dasar dan alasan paling kuat untuk menjadi resolut (tegas) dalam memutuskannya atau tidak. (Pramoedya Ananta Toer)

Belajar dari beberapa kejadian akhir-akhir ini, saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru. Meski ini hal yang sepele dan gampang diabaikan, tetapi menurut saya ini adalah bekal hidup yang baik. Ternyata menyelami sisi-sisi keunikan kehidupan manusia mengagumkan juga. Peristiwa yang terjadi di Kampus Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, menyita perhatian saya untuk mencari, apa yang sedang terjadi?. Bentrok antara Mahasiswa dengan Pendukung salah satu Petinggi Kota, antara Mahasiswa dengan pihak Kepolisian, dan juga antar mahasiswa, dapat disimpulkan sementara begitu tinggi tensi suasana di Kota Kendari. Perilaku brutal yang ditunjukkan oleh semua pihak dalam menyelesaikan masalah, membuat saya bertanya-tanya, seberapa besar jaminan tindakan kekerasan yang cenderung brutalistik (bukan anarkis) dapat menyelesaikan masalah?

Saya mencoba fokus terhadap elemen mahasiswa yang tersorot mata kamera di televisi akhir-akhir ini. Kekuatan otot dan stamina yang mereka keluarkan untuk memporak-porandakan situasi begitu luar biasa. Akan tetapi, kemanakah kekuatan akal sehat dan kekuatan analisisnya?. Haruskah segala sesuatu bermuara dengan tindakan yang membabi buta?.

Memang telah menjadi hal yang biasa, ketika penguasa membuat kebijakan-kebijakan yang tidak populis bagi kelompok tertentu, pasti akan menuai protes keras. Dan yang menjadi corong kuat umumnya adalah mahasiswa. Benturan kepentingan terjadi di dalamnya, selanjutnya memungkinkan terjadi tindakan pemaksaan kehendak dikedua belah pihak. Dari situasi inilah kekerasan berpotensial terjadi.

Mahasiswa, notabene sebagai kaum intelektual, keberadaannya diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Melalui kemampuan analisis dan sumbangsih pemikiran yang murni lahir dari utuhnya idealisme adalah mutlak adanya. Turun ke jalan menurut hemat saya tidak ada salahnya, karena itu adalah salah satu langkah untuk menyuarakan “suara-suara kenabian” di masyarakat. Apalagi ketika semua saluran bicara telah tersumbat dan tertutup rapat.

Sangat disayangkan, kalau kejadian selanjutnya berbuntut pada kerusuhan. Memang kesalahan tidak bisa ditimpakan sepenuhnya bagi Mahasiswa. Tapi ironisnya, kekerasan terhadap mahasiswa yang terjadi, lantas di balas kembali dengan kekerasan. Pertanyaannya, tidak adakah langkah-langkah lain yang lebih strategis untuk menyuarakan aspirasi murni mahasiswa? Saya yakin sebagaian besar komunitas Mahasiswa diseluruh pelosok tanah air akan bersimpati dan mendukung untuk memberangus ketidakbenaran tindakan. Jika demikian adanya, ketika Pejabat, aparat kepolisian, mahasiswa (tidak termasuk preman) jika selalu mengedepankan kekerasan dan brutalisme, menandakan bahwa telah terjadi kebangkrutan identitas intelektual. Semoga penyakit ini tidak menjangkiti komunitas yang lain.

Iklan

5 responses to “Kebangkrutan Identitas Intelektual

  1. Pergerakkan mahasiswa saya menilai udah keluar dari ideal-idealnya. Semua punya ukuran sendiri-sendiri dan tidak berangkat dari filosofis gerakan mahasiswa.

  2. gerakan mahasiswa ki piye to mas?

    saya merasa bukan intelektualis, berarti saya bukan mahasiswa donk donk??

    ho ho ho

  3. @Yodie : Sebenarnya pertanyaan yang diajukan, itu pertanyaan yang harus dijawab oleh diri sendiri dulu!.
    Ya kalo merasa bukan intelektualis ya silakhan! Karena itu menyangkut masalah rasa dan itu bebas atau tidak bisa dipaksakan. Mahasiswa dalam keberadaannya dimasyarakat pasti memiliki fungsi ataupun peran yang harus dimainkan. salah satu contohnya jelas termaktub dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Setiap aktivitas dan dinamika penjelmaan dari fungsi dan peran tersebut, itulah salahsatu bentuk gerakan mashasiswa.
    Dan yang harus di garis bawahi adalah Kaum intelektual bukan hanya mahasiswa.

  4. kriteria mahasiswa yang intelektualis menurut anda seperti apah?

    ho ho ho…

    marii….

  5. @Yodie : mengutip sedikit yang di tulis oleh Pramudya, kaum intelektualis adalah mereka yang tidak hanya memiliki gudang ilmu dalam dirinya, tetapi mampu mengembangkan menterjemahkannya dalam perjalanan panjang bangsanya. Terkait dengan eksistensi mahasiswa dalam lingkungan wawasan almamater yang padat pengetahuan dan ilmu, maka memungkinkan mahasiswa menjadi komunitas pendukung dinamika masyarakat. pada saat itulah mahasiswa menempatkan dirinya pada area intelektualis.
    Tetapi masih banyak komunitas-komunitas intelektual yang terbangun dari lingkungannya masing-masing. Contoh yang membuat saya kagum adalah komunitas sais dokar disalatiga (saya baca di Scientarum.com) yang telah lama memberikan kontribusi baik pemikiran maupun fisik bagi peningkatan kemakmuran lingkungannya. Saya kira mereka adalah kaum intelektual pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s