Jabatan Fungsional Akademik : Karir Keilmuan atau Profesi?


Hari Jumat, 29 Februari 2008, saya memenuhi undangan Seminar di sebuah Hotel di Salatiga. Tema yang diusung dalam acara seminar tersebut adalah “Pengembangan Karir Dosen”. Meski kehadiran saya terlambat, tetapi saya dapat banyak mencermati pembicaraan ataupun diskusi yang terbangun, bahwa sebenarnya ada banyak permasalahan di dunia pendidikan tingkat tinggi Indonesia. Baik itu permasalahan di lingkungan internal tempat saya mengaktualisasikan diri, maupun di lingkungan dunia pendidikan tingkat tinggi secara umum.

Kisaran Pembicaraan yang terjadi berada di standarisasi Kualitas Pendidikan , terlebih masalah ukuran angka yang harus dipenuhi oleh para “tukang-tukang pekerja ilmu pengetahuan”.

Kebijakan Pemerintah (dhi. Departemen Pendidikan Nasional) yang termanivestasi dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dan UU Guru dan Dosen, secara garis besar memaparkan beberapa hal penting terkait dengan eksistensi Dosen, antara lain :

  1. Kualifikasi, Kompeternsi dan sertifikasi,
  2. Hak dan Kewajiban,
  3. Pembinaan dan pengembangan
  4. Penghargaan
  5. Perlindungan
  6. Organisasi Profesi dan Kode Etik dan beberapa hal lainnya.

indikator-indikator ini perlu disambut dengan baik, karena akan berpengaruh terhadap kualitas dan profesionalitas dosen. Tentunya dengan standarisasi yang jelas dan terukur, akan membawa perubahan kepada meningkatnya kualitas pengajaran, pemerataan pendidikan, Pengembangan ilmu pengetahuan, penciptaan SDM yang “berdaya guna” dan selanjutnya bermuara kepada perwujudan kesejahteraan masyarakat.

Akan tetapi, maksud indah tersebut menyimpan konsekuensi, jika tidak diterapkan dengan diimbangi “kesadaran keilmuan dan pendidikan yang tinggi” oleh seluruh stakeholder pendidikan. Alasannya :

pertama,
Standar kualifikasi dan kompetensi yang diterapkan memungkinkan para pelaku pendidikan (dhl. dosen) hanya memikirkan pengumpulan pemenuhan standar-standar kualifikasi tersebut. Hal yang ditakutkan jika Dosen hanya berorientasi mengejar kuantitas Pengajaran dan karya-karya akademik yang diisyaratkan, untuk mengejar karier dalam kerangka pengejaran kebutuhan ekonomi dan Status sosial, kemudian lupa terhadap pengembangan kualitas keilmuan yang syaratkan oleh filosofis pendidikan. Kekakuan dan kebekuan pendidikan akan terjadi. Imbasnya Pendidikan kita tidak lebih dari penghasil SDM yang pragmatis, tidak jauh beda dengan yang lalu!!.

kedua,
masih terkait dengan alasan pertama, pemenuhan Standar kualifikasi yang disyaratkan oleh otorita pendidikan memungkinkan pula “menarik mundur” konsep pendidikan di perguruan tinggi. Maksudnya, Konsepsi proses Pendidikan tingkat tinggi adalah konsep pendidikan orang dewasa yang lebih menekankan kepada pengembangan seluruh kepribadian peserta didik, terutama perbuatan etisnya sebagai orang dewasa yang bertangung jawab. Jika seorang Dosen yang hanya berorientasi pada profesi untuk mengejar cum, memungkinkan pendidikan tinggi tidak ada bedanya dengan konsep pendidikan anak, yang hanya menekankan memberikan pengetahuan dan kecakapan baru. Makanya pendidikan di perguruan tinggi acapkali tidak menghasilkan profil lulusan yang memiliki kualitas kemanusiaan berbeda dengan lulusan di jenjang pendidikan sebelumnya. Perbedaannya hanya pada tambahan pengetahuan akan tetapi sepi dalam kemampuan analisis, pengambilan keputusan dan tanggung jawab sosialnya.

Ketiga, Standarisasi yang dilakukan pemerintah harus terus dievaluasi dalam tahap pelaksanaannya. Pengalaman yang ada, Update standar kualitas yang dilakukan oleh pemerintah diberbagai bidang sering terlambat. Pergeseran lingkungan berubah dengan cepat, sedangkan budaya organisasi “Pengendali administratif sistem ini (pemerintah) seringkali hanya berkutat pada permasalahan internal organisasi, tarik menarik kepentingan sektoral dan hitung-menghitung posisi tawar politik. Pendeknya, seringkali pendidikan ditarik keranah politik. Doktrinasi dan hegemoni pendidikan terjadi di dalamnya dan memberhangus kualitas keilmuan.

Ketiga catatan ini, setidaknya menjadi perenungan bagi kita bersama, terlebih para pelaku pendidikan di perguruan tinggi. Kira-kira kalau bisa disimpulkan, bahwa sebenarnya pendidikan tingkat tinggi di Indonesia masih terus mencari-cari bentuk yang ideal. Tarik menarik disini terjadi, pemerintah mencoba menampilkan kebijakan yang mengguratkan Dosen menjadi sebuah profesional-profesional dengan standarisasi yang diberlakukan. Sedangkan dilain pihak, Dosen menjadi instrumen penting dalam penciptaan manusia-manusia yang tinggi ilmu, tinggi iman dan tinggi pengabdian. Artinya, kualitas seorang dosen juga menyangkut seberapa jauh kontribusinya bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus pembentukkan manusia yang holistik. Semoga saja salah…..!!

Iklan

7 responses to “Jabatan Fungsional Akademik : Karir Keilmuan atau Profesi?

  1. Selamat Petang !
    Opha saya melihat ini terjadi di UKSW Tercinta ini. Ada beberapa Doktor, bahkan professor yang sudah dihasilkan tapi mahasiswanya tetapi “Loyo”.

    Why ?
    Project ?
    Malas ?
    Or…..?
    Akhirnya ini yang menyebabkan UKSW tidak berkembang. Ada yang berkualitas, tapi project oriented, organization orieted,
    Yang jelas banyak yang tidak bertanggugjawab…

    “Tarik menarik disini terjadi, pemerintah mencoba menampilkan kebijakan yang mengguratkan Dosen menjadi sebuah profesional-profesional dengan standarisasi yang diberlakukan.”

    Untuk yang diatas bisa lebih luas, mis: tentang Psikolog dan Ilmuan Psikologi. Syarat sekarang, menjadi Psikolog harus S2. Padahal kompetensi belum tentu lebih baik dari S1 misalnya. Alasan Politis menurut saya karena Psikolog sekarang banyak saingan. Sehingga membuat peraturan untuk melindungi diri sendiri.

    Maaf Yang terakhir kayaknya ngga nyambung
    hehehehe
    hehehehe

    btk,
    Geritz

  2. @ Geritz : Yah…pendidikan harusnya bebas kepentingan, kecuali kepentingan kemanusiaan. Tapi itu tidak mungkin. Sekali lagi diatas muka bumi tidak ada ruang dan waktu yang benar-benar otonom.

  3. opa…
    selamat siang pak dosen, soal JAFA diatas menurut saya karena disebabkan era modern (modernisme -red), segala sesuatu harus rasional dan terukur, begitu pula di pendidikan…
    pendidikan dan kompetensi dicoba untuk di-‘angka’-kan menjadi ukuran tertentu, sama hal nya dengan Jabatan Fungsional Akademik yang dicoba diterjemahkan menjadi angka yang mewakili kompetensi tertentu, memang dalam pelaksanaan nya masih kalang kabut, (apalagi DP3 semakin menyesatkan). yang menjadi masalah bukan sistemnya tapi muncul dari soft (sistem otak manusianya), setiap ada sistem baru selalu saja ada cara untuk memperkosanya, akhirnya muncul yang penting kuantitas bukan kualitas…
    duhh kalo diterusin panjang nih…kalo salah maap yah…
    Best Regards
    obed

  4. @obed : Selamat siang juga, masih kritis juga analisamu bed. Aku juga kadang berfikir seperti itu juga saat memetakan permasalahan ini. sukses

  5. dear opha,

    saya cukup sinis dengan pendekatan2 yang kita pakai di Indonesia, semua masuk wilayah formalisasi yang terburu-buru dan lupa proses menginstal nilai2. akhirnya nilai2 instrumental saja yang nyantol (penuhi norma administratif). ini berbeda dengan mereka yang berprofesi guru di zaman dulu (warisan belanda?). mereka profesional dan etis di bidangnya, walau jelas tertinggal dalam fasilitas, konsep, model, dan berbagai aspek pengembangan dunia modern saat ini.

    sebuah buku pedagogi dari salah satu universitas di australian terbit belakangan ini (scott dan dixon 2008) menilai bahwa profesionalisasi tidak cukup (walau penting). selama ini memang kita lupa bahwa menjadi guru/dosen adalah sebuah profesi yang harus ditekuni secara bertanggung jawab. karena itu pelatihan/pengembangan kemampuan profesi diperlukan. coba dicek di uksw, apakah ada pelatihan2 yang sistematis untuk menjadi dosen yang baik? secara umum saya katakan tidak ada (walaupun ada program seperti Pekerti/AA). kita diasumsikan tahu dengan sendirinya, karena toh selama bermahasiswa berinteraksi dengan pekerjaan para dosen. tapi si geritz belum2 sudah kritik, bahwa doktor dan professor pun tidak/belum mumpuni. jadi, akhirnya kita yang muda belajar juga dari para ‘buta’.

    mengapa profesionalisasi saja tidak cukup? ini bukan soal mampu/trampil, tetapi seperti yang opha katakan sebagai soal kesadaran, obed tentang yang soft, yang akibatnya berbuah pada yang geritz tunjuk sebagai mahasiswa yang loyo. bagi saya, ini soal filsafat tentang belajar dan mengajar, paradigma tentang pendidikan tinggi, perspektif tentang riset, etc. di situlah kita belum berbuat banyak. dulu saya sempat ngobrol dengan bung Ferdy Rondonuwu yang waktu itu merancang kegiatan pelatihan dosen untuk bidang pengajaran dan saya menitipkan dimensi filsafat itu. tapi, rasanya hal tersebut dianggap ‘sekunder’ atau barangkali entah posisi ke berapa. padahal, menurut saya, semua bermula dari asumsi kita tentang siapa kita, siapa mahasiswa, apa itu belajar, mengapa, baru kemudian turun ke berbagai aspek bagaimana-nya. kita jelas lemah di situ, karena itu jangan heran jika semua akhirnya instrumental, formalitas, etc dan ujung2nya kualitasnya dikorbankan.

    @geritz: kenapa mahasiswa loyo? saya kira kita harus tantang asumsi2 di belakang kepala kita tentang apa yang sudah kita lakukan sampai hari ini. dan di situ, saya termasuk seorang yang mau menabrak untuk merombak total model pendidikan kita. punya profesor bukan jaminan jika si profesor memusatkan pandangannya pada diri sendiri dan berproses dengan pola transmisi pengetahuannya biar ter-copy di mahasiswa. it will never give significant impact on student learning. nah, kalian dobrak dong via scientiarum dll untuk lakukan studi in-depth dan keluarkan konsepsi/model pendidikan tinggi yang efektif. ‘banting’ di muka rektor dan tuntut kami ingin seperti ini. di situ baru mahasiswa punya bargaining position yang ok punya. tapi, tentu mahasiswa juga harus gentle untuk spartan berjuang selama studi.

  6. @ Kak Niel : Kalo mo jujur Sebenarnya tulisan ini merupakan ketidaksepakatan saya dengan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi sekarang ini, khususnya untuk penataan kualitas Pengajar dan Pengajaran. Dan itu sedikit mengusik saya untuk berargumen (meski di blog pribadi) mempertanyakan beberapa hal yang menjadi ketakutan-ketakutan. Meski saya masih harus belajar banyak tentang filsafati pendidikan tingkat tinggi, namun ada persoalan yang sepintas kalo saya lihat seperti “kutukan” dari beberapa kecelakaan sejarah.

    Beberapa gagasan yang kak niel ungkapkan mengenai eksistensi lembaga pendidikan pada beberapa media, saya cukup mendapatkan pencerahan disitu. Apalagi mengenai proses belajar dan pembelajaran yang harus mencirikan pendidikan orang dewasa.
    Pernah saya merasa sepi, ketika topik diskusi pedagogi pendidikan ada di pikiran. Respon sunyi dan semua sibuk dengan mainannya masing-masing, Madep, Mantep melu UKSW. kesannya seperti itu. Sepertinya kehilangan konsepsi pendidikan dan terjebak dengan persoalan lain, yang menurut saya buang-buang energi. Terlalu puas dan pasrah dengan keadaan.

    Ironisnya pula, Pimpinan Universitas, layaknya aktor drama komedi yang memainkan perannya disaat orang lain enggan untuk tertawa. Mencoba berperan lucu disaat suasana duka yang mendalam. Wal-hasil pengelolaan kampus tidak ubahnya sinetron yang ditinggalkan penikmatnya. Sepi dan tanpa gigi. (wah terlalu emoasinal juga saya).

    Tapi semenjak ada scientiarum, ada wahana yang representatif untuk kita berdiskusi. Ada sedikit gemericik air perubahan yang hendak menjelang. Meski butuh kerja ekstra. Gagasan Kak Niel dan beberapa komunitas kampus mencairkan kebekuan yang ada. Thanks kak niel sudah berkunjung ke blog saya!!!!

  7. opha.. aku lagi rapat bahas JAFA nih. hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s