Sebuah argumentasi baru saja saya baca, dalam buku dengan judul “Connected”, karangan Nicholas A. Christakis, M.D., Ph.D. & James H. Flower, Ph.D. Berdasarkan beberapa hasil penelitian dan percobaan fenomena menunjukkan bahwa seringkali orang lebih memperhatikan kekedudukan relatifnya di dunia daripada kedudukan absolutnya. Orang mengukur kemakmuran bukan berdasarkan berapa banyak uang yang mereka dapat atau berapa banyak barang yang mereka konsumsi, tetapi justru berapa yang mereka dapat atau konsumsi dibandingkan dengan orang lain yang mereka kenal.
Kritik tajam terhadap kehidupan sosial manusia modern. Hal tersebut berani saya katakan, karena fenomena tersebut semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi ketika kita “terjebak” dalam peliknya persoalan kemasyarakatan di negara dunia ketiga.
Terkadang keputusan-keputusan irrasional oleh manusia-manusia “konsumtif” di negara berkembang sangat dipengarahi oleh lingkungan sekitarnya (baca : orang-orang terdekatnya). Mengkonsumsi bukan berangkat dari kebutuhan, terkadang dan bahkan seringkali lebih disebabkan karena keinginan apa yang dimiliki oleh orang lain.
‘Ketegangan’ seperti inilah yang bisa saja menyebabkan “penyakit-penyakit” masyarakat. sebut saja Korupsi. Imbas dari “ketegangan syaraf” melihat keadaan orang lain, sedangkan kenyataan absolut kita belumlah memadai.
Kita terlalu senang menjadi ikan besar di dalam kolam yang kecil. Akibat dari ukuran yang kita pakai selalu saja ukuran dari entitas orang lain. Sekiranya, lebih bahagia untuk berpadan pada yang ada.
Wah sangat mendalam sekali ulasan anda
Thanks Bos…sebenarnya panjang, tapi lagi belum sempat menulis lagi. Yang pasti, ini kesadaran kenapa korupsi merajalela. Efek jera bisa mengatasi, tapi tanpa kesadaran dari dalam diri untuk berpadan pada yang ada adalah hal yang mendasar. Tapi ini kesadaran manusia level tinggi!!! he..he…