Utopia, Hidup Sejahtera yang Merata

Agustus 26, 2008 · 1 Komentar

Sesaat setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang Guru Besar FE UKSW, dengan Judul Neo-liberalisme dan Neo-sosialisme, dalam sudut pikiran saya mulai muncul sebuah respon balik. Respon berbentuk pertanyaan-pertanyaan, yang muncul karena ternyata kita sedang berada pada dunia yang terus berusaha untuk “sempurna”. Sayangnya, keadaan (Entah Walfare State ataupun Social State) yang diidamkan tidak kunjung tiba, yang ada hanyalah kontradiksi dalam sebuah dialektika yang tak berujung pangkal.

Contoh simple, Kehadiran “Reagenomics dan Thatcherism“, oleh sebagian orang dianggap sebagai obat mujarab bagi krisis ekonomi yang tejadi di akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an. Persoalan efisiensi pasar yang digembar-gemborkan melalui reduksi intervensi pemerintah dalam kebijakan fiskal dan kebebasan seluas-luasnya kepada individu untuk berperan di pasar, menjadi trend disosialisasikan ke Negara-negara sedang berkembang. Neo-liberalime dipropagandakan layaknya angin surga yang akan menyegarkan dan mensejahterakan sebagian besar umat manusia.

Tapi apa lacur, hingga sekarang angin surga yang ditawarkan tampaknya belum benar-benar menjadi angin surga. Bahkan tidak sedikit negara sedang berkembang mengalami “angin topan” yang memporakporandakan tatanan ekonomi mereka di penghujung abad ke 20. Menjadi teringat dengan ungkapan seorang teman saya, “Apapun tidak akan pernah menjamin apapun” saat kita berhadapan dengan kenyataan hidup. Sangatlah wajar ketika ada kelompok yang mempertanyakan kegagalan konsep penataan ekonomi tersebut.

Realitas kehidupan mutlak akan selalu menunjukkan dua sisi ekstrim yang terus berinteraksi menciptakan keseimbangan. Menarik pemikiran dari filosofis tersebut, ketika kita melihat ada satu wilayah yang sejahtera, di sebelah sisi yang lain akan terlihat kebalikaannya. Artinya, saat kita berdiskusi tentang kesejahteraan dan kemakmuran, sebenarnya disaat itulah kita akan memberikan ruang untuk “pemiskinan” terjadi. Makanya tidaklah aneh sosialis utopia muncul kepermukaan mempertanyakan paham kapitalisme.

Disinilah kita sama-sama diperhadapkan pada persoalan yang tak akan berujung. Ketika impian indah penataan ekonomi dalam sebuah sistem sosial ataupun sistem ekonomi pasar yang mengedepankan privatisasi dan liberalisasi pasar digembar-gemborkan, kesemuanya akan menuai pro dan kontra. Sehingga benar adanya kita, keabadian itu utopis dan kefanaan adalah yang hakiki.

Kategori: Aktivisme

1 response so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar