Mendudukan Kembali Makna Anarki

Mei 30, 2008 · 6 Komentar

Judul berita di sebuah media beberapa waktu lalu menyebutkan, Kapolri : Pendemo Anarkis Akan Ditindak Tegas. Melihat judul tersebut, saya mulai gusar. Kegusaran saya muncul karena ternyata kata Anarkis sekarang sering di pakai untuk memaknai tindakan kekerasan ataupun brutal oleh sekelompok orang. Demonstrasi yang berakhir ricuhpun disebutkan dengan tindakan anarki. Melihat fenomena ini, maka kata “anarki” telah dimaknai secara keliru. Keliru karena dapat saja menjadi pembodohan bagi publik, sebagai upaya menolak, mendiskriditkan, memojokkan suatu ideologi / paham (isme) yang belum tentu semua ideal-ideal yang diusungnya seperti itu.

Perlu diperjelas dahulu, saya bukanlah penganut faham anarki (anarkisme), meskipun dalam beberapa hal terdapat pemikiran-pemikiran paham yang sedikit memberi warna ideal-ideal pribadi saya. Terutama yang bersinggungan dengan topik pembicaraan dinamika sosial.

Jika kita menilik dari Etimologi kata anarki, Kata anarki merupakan kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang berakar dari kata Yunani anarchos/anarchein. Selanjutnya, kata tersebut adalah bentukan dari “a” (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi “n” dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas – secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani). Anarchos/anarchein = tanpa pemerintahan atau pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya. Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. (wikipedia Indonesia)

Memang pada perjalanan sejarahnya , para penganut paham anarki dalam berbagai aksinya kerap kali menggunakan tindakan kekerasan sebagai “metode” untuk menyampaikan ide-gagasannya. Bahkan ada beberapa penganut mengatakan tindakan kekerasan merupakan langkah yang cukup ampuh dalam memperjuangkan gagasannya. Lebih lanjut lagi, tindakan kekerasan dan sejenisnya harus dilakukan ketika berhadapan dengan “kapitalisme” dan “negara” dalam konteks sistem.

Kita mengetahui bersama dan sejarah membuktikan ketika paham (isme) kapital berkolaborasi dengan negara (sampai kepada sistem), dapat terlihat begitu kuat dan dominannya kolaborasi itu. Sebenarnya tidak hanya kapitalisme, sosialisme, komunisme, atau paham yang lainpun memungkinkan demikian. Wal-hasil amatlah wajar ketika dominasi ingin dipatahkan, dan kaum anarki melakukan hal itu. Kapitalis pun pernah melakukan hal yang sama bahkan lebih keras, akan tetapi caranya dibungkus lebih “indah”.

Akan tetapi, ketika kita mau menilik lebih jauh gagasan serta idealogi yang ditawarkan oleh paham anarki pada awalnya, gagasannya tidak menyentuh sama sekali dengan tindakan/aksi kekerasan. Sama halnya dengan beberapa paham yang lainnya. Yang menarik lagi, seorang pemikir anarkis, Alexander Berkman, mengatakan,

“Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan.” (Alexander Berkman, What is Communist Anarchist 18701936)

Kebebasan yang benar-benar bebas dan mengedepankan hakekat eksistensi manusia yang idependen adalah ideal yang diusung oleh anarkisme. Bahkan seorang Mikhail Bakunin(1814-1876), tokoh Anarki yang paling revolusioner pun tidak mengusung model kekerasan dalam perjuangan paham anarki. Meskipun Bakunin memiliki pernyataan yang keras terhadap dominasi negara yang penuh dengan kemunafikkan pada saat itu. -Hingga saat inipun mungkin saja masih terjadi, ketika otorita negara memainkan peran untuk mengeksploitasi masyarakat bahkan komponen negara lainnya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya-

Memang model kekerasan pernah diusung oleh sekelompok penganut paham anarki. Tetapi itu tidak cukup fair ketika kita melakukan generalisasi makna, dan bahkan cenderung mendiskriditkan, menciderai pemahaman atau menempatkannya pada makna konotatif. Jika saya mau melihat dari pemikiran negatif , sekiranya ini adalah sebuah upaya yang sistematis dari paham-paham yang terus dipertanyakan oleh paham anarki untuk terus melakukan dominasi dan hegemoninya. Dan menurut hemat saya upaya sistematis ini merupakan tindakan kekerasan, brutal dan membunuh “karakter” isme anarki. Maka siapa disini yang bisa dikatakan identik dengan kekerasan???

Kategori: Aktivisme

6 tanggapan so far ↓

  • ade // Juni 7, 2008 pada 4:42 pm | Balas

    kalo belum percaya ama penjelasan opha,,silahkan hubungi didot klasta…seorang yang “belajar lebih” tentang anarki…

  • Yodie // Juni 17, 2008 pada 11:51 am | Balas

    hmm…

    bakhunin…

    berpisah dengan Marx…

    !

  • Oni Suryaman // Juli 26, 2008 pada 2:44 am | Balas

    mengapa anarki mendapat nama buruk, kata seorang teman yang kebetulan belajar anarkisme:

    mulanya kaum anarkis dan komunis bersatu untuk memperjuangakan masyarakat bebas yang tidak tertindas. perpecahan anarkisme dan komunisme terjadi waktu para anarkis yang emang emoh dipimpin dipaksa untuk mengikuti garis partai. mereka yang mbalelo ini ditindas oleh para komunis dan pada saat itu ada sebuah ungkapan yang diucapkan kaum komunis bagi orang yang melanggar garis aturan partai: “anarkis loe!”

    sejak itulah anarkis berarti tidak mau turut aturan, padahal mereka sebenarnya lebih dari itu. anarkis modern mungkin dapat dilihat dari gerakan punk, yang berslogan “DO IT YOURSELF”. anarkis adalah berarti mengatur diri sendiri.

  • rudylatuperissa // Juli 26, 2008 pada 12:06 pm | Balas

    @Oni : terdapat banyak sekali liku-liku sejarah yang diungkapkan oleh berbagai sumber. Hal ini sangat wajar, ketika sejarah menjadi komoditi untuk menyakinkan “pembenaran-pembenaran” yang ada. Namun bukan berarti kita dapat begitu saja terpengaruh dengan pembernaran-pembenaran tersebut. Yang penting kita mau mencari terus kebenaran, meski sulit dan berliku.

    Memungkinkan pula peristiwa yang diungkapakan dari sumber tersebut. Komunisme dan Anarkisme berdasarkan beberapa literatur yang pernah saya konsumsi, bersinggungan dan memiliki keterkaitan yang kuat. Akan tetapi jika dikatakan bahwa kontradiksi yang terjadi pada perjalanan sejarahnya disebabkan oleh ketidaksepakatan terhadap “kekuasaan” semata, tampaknya masih perlu untuk di kaji terus. Tampaknya bukan hanya itu.

    Menurut hemat saya, gerakan punk telah bergeser dari gerakan-gerakan semula dari anarkisme. Meski ada terdapat beberapa idiom yang terus dijunjung, tetapi isi dari perjuangannya telah berbeda. Bahkan ada pula yang sudah tidak wajar dan melenceng jauh. Meski mereka mengklaim adalah bagiannya. Parahnya gerakan ideologi dibawa keranah penampilan fisik yang seragam dan membabi buta.

  • meQ // September 1, 2008 pada 7:36 am | Balas

    ya anarkisme memang kebalikan dari semua yang ada dalam pendapat umum. Memang ada keterikatan antara segala gerakan anti otoritarian dengan kekerasan, dan juga keterkaitannya dengan individualisme. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja. Kaum anarkisme individualis yang biasanya menomorsatukan ego dan hasrat biasanya sangat dipengaruhi oleh Max Stiner. Dan orang2 kiri tradisional selalu menghubungkan juga inividual dengan Anarkisme itu sendiri. Ya padahal tidak sampai disitu saja. Memang ada beberapa varian dalam anarkisme.

    Perpisahan marx dengan bakunin memang sudah klasik, tapi menurut pandangan saya ketakutan2 bakunin akan bentuk otoritas tunggal dalam hal ini negara terjadi. Dalam hal ini anarkisme sangat menolak otoritas tunggal atau hirarki. Tapi saya sangat sepakat bahwa tidak ada yang bisa menjamin hidup kita selain diri kita sendiri (dalam konteks hubungan masyarakat dengan negara).

    Untuk PUNK sendiri mungkin pada awalnya ada keterkaitan dengan perkembangan anarkisme melalui musik dan fashion. tapi saya rasa itu sudah menjadi lifestyle saja. tidak semua anaka PUNK juga seorang anarkis. Walaupun untuk di indonesia kebanyakan mereka mengenal anarkisme melalui PUNk. Tapi tidak bisa melihat gerakan anti otoritarian hanya dengan melauli PUNk.

    Dan untuk urusan crime thing (vandal dkk.) itu juga saat ini kebanyakan lifestyle aja. Tidak lebih dari itu.

    SalamMalaz

    meQ

  • handaru pirata // Januari 20, 2009 pada 12:26 pm | Balas

    coba cek webblog kami: http://www.katalis.tk

    dan kami adalah anarkis :)

Tinggalkan sebuah Komentar