<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Mempersoalkan Kenaikan BBM Dan Nasionalisasi?</title>
	<atom:link href="http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/</link>
	<description>Tidak ada ruang dan waktu yang benar-benar otonom</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Jun 2009 06:35:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: pak-e</title>
		<link>http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/#comment-40</link>
		<dc:creator>pak-e</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:55:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://latuperissamedia.wordpress.com/?p=25#comment-40</guid>
		<description>pertama,
saya rasa ini hanya masalah keberanian. lihatlah venezuela dan bolivia. mereka g gentar dengan ancaman pihak asing. tapi memang btuh keberanian yang besar.

kedua,
memang benar pertamina yang nantinya akan mengolah, akan susah untuk bisa dipercaya membawa uang hasil pendapatan. tapi sekarang telah ada KPK yg saya rasa cukup kredible untuk melakukan tugasnya.
apakah yang diragukan itu masalah kemampuannya?saya kurang sependapat. saya rasa hanya masalah keberanian (berikut ini saya sedikit membahas mkasalah ini http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/mampukah-pertamina/ )

ketiga,
saya justru merasa klo hal ini g ada korelasinya. jika kita telah melakukan nasionalisasi sedangkan konsumsi kita masih minus terhadap produksi, maka tetap saja kita harus mengimpor.



Lalu apa keuntungan nasionalisasi?
jelas sekali kita akan menjadi sedikit lebih disegani di dunia internasional. selain itu, ada sedikit keuntungan yang akan didapatkan. saya telah melakukan kalkulasi kasar mengenai nasionalisasi. (hanya sektor minyak gas tidak saya hitung) ( http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/apakah-keuntungan-nassionalisasi/ )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pertama,<br />
saya rasa ini hanya masalah keberanian. lihatlah venezuela dan bolivia. mereka g gentar dengan ancaman pihak asing. tapi memang btuh keberanian yang besar.</p>
<p>kedua,<br />
memang benar pertamina yang nantinya akan mengolah, akan susah untuk bisa dipercaya membawa uang hasil pendapatan. tapi sekarang telah ada KPK yg saya rasa cukup kredible untuk melakukan tugasnya.<br />
apakah yang diragukan itu masalah kemampuannya?saya kurang sependapat. saya rasa hanya masalah keberanian (berikut ini saya sedikit membahas mkasalah ini <a href="http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/mampukah-pertamina/" rel="nofollow">http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/mampukah-pertamina/</a> )</p>
<p>ketiga,<br />
saya justru merasa klo hal ini g ada korelasinya. jika kita telah melakukan nasionalisasi sedangkan konsumsi kita masih minus terhadap produksi, maka tetap saja kita harus mengimpor.</p>
<p>Lalu apa keuntungan nasionalisasi?<br />
jelas sekali kita akan menjadi sedikit lebih disegani di dunia internasional. selain itu, ada sedikit keuntungan yang akan didapatkan. saya telah melakukan kalkulasi kasar mengenai nasionalisasi. (hanya sektor minyak gas tidak saya hitung) ( <a href="http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/apakah-keuntungan-nassionalisasi/" rel="nofollow">http://imronfajar.wordpress.com/2008/07/16/apakah-keuntungan-nassionalisasi/</a> )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wisnoe</title>
		<link>http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/#comment-24</link>
		<dc:creator>wisnoe</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 13:57:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://latuperissamedia.wordpress.com/?p=25#comment-24</guid>
		<description>menurut saya bgs Indonesia ini terlalu dimanjakan oleh istilah gemah ripah loh jinawi itu
org2 Ind itu merasa negara  kita ini kaya raya jadi serta merta merasa seharusnya kita mudah saja mendapat hidup yg nyaman di negara kita ini
sikap itulah membuat sbgn bsr masy Ind ( terutama mhswa ) berpikiran skeptis bhwa kalo pemerintah menaikan harga BBm itu berarti pemerintah tdk peduli pada rakyat kecil
saya pikir itu pikiran yang cukup konyol dan tidak kritis untuk org2 yg sdh lulus SMA dan jadi mhswa. seharusnya mereka membuka pikiran mereka dan melihat realitas yg ada
negara kita ini skrg adalah negara yg hrs byr utg 80 triliyun tiap  thnnya, negara kita ini jg blm bisa belum bisa memenuhi keb BBMnya sdr, dan tentu saja negara kita ini tidak dalam posisi bisa memainkan harga minyak dunia. Jd kita harus realistis terhadap posisi negara kita di dunia  saat ini, tdk asal tuntut ini dan itu. saya rasa pemerintah juga sdh mempertimbangkan masak2 mengenai mslh ini, tdk asal ambil keputusan. dan melihat harga minyak dunia skrg ini, saya kira ini sudah keputusan terbaik. negara kita ini tidak dalam posisi mempunyai banyak pilihan, negara kita ini sedang kritis dan tidak punya pilihan, jd utk rakyatnya ( terutama mahasiswa ) harus realistis, semua org di negara kita ini juga susah, jd jgn merasa jd org yg plg merasa susah krn mslh ini.

dan untuk masalah nasinalisasi, saya sangat setuju dengan pendapat pak Rudy. saya rasa itu merupakan hal yg mustahil apalagi di saat2 skrg ini. bahkan saya rasa cukup konyol utk dibicarakan. negara kita ini ( dari pemrintah pusat sampe daerah )masih susah payah supaya cari investor bwt nanam modal di Ind, ini malah mau diputusin gitu aja, rasanya kok spt pembodohan masy saja, spt politosi yg ksh janji surga wktu kampanye. dikiranya ngurusin minyak itu gampang, asal ngomong aja itu, emang sanggup? emang siap? walaupun bisa sekalipun, saya rasa pasti butuh waktu beberapa tahun untuk menjalankan usaha minyak tsb, dan negara kita sudah kadung ambruk duluan.

jd kesimpulan saya,  kenaikan harga BBM, walaupun menyusahkan, merupakan keputusan terbaik saat ini. dan sebaiknya kita  membuang jauh2 semboyan gemah ripah loh jinawi itu, karena itu hanya membuat kita terbelai dgn kenyamanan yg semu yg membuat kita malas memaksimalkan potensi yg sesungguhnya ada. dan stlh keadaan negara tdk sesuai keadaan, kita jd mudah mengalami krisis kebangsaan spt skrg ini yg membuat kita mudah mengambil jalan pintas yg semakin menghancurkan negara spt korupsi dab ilegal logging</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut saya bgs Indonesia ini terlalu dimanjakan oleh istilah gemah ripah loh jinawi itu<br />
org2 Ind itu merasa negara  kita ini kaya raya jadi serta merta merasa seharusnya kita mudah saja mendapat hidup yg nyaman di negara kita ini<br />
sikap itulah membuat sbgn bsr masy Ind ( terutama mhswa ) berpikiran skeptis bhwa kalo pemerintah menaikan harga BBm itu berarti pemerintah tdk peduli pada rakyat kecil<br />
saya pikir itu pikiran yang cukup konyol dan tidak kritis untuk org2 yg sdh lulus SMA dan jadi mhswa. seharusnya mereka membuka pikiran mereka dan melihat realitas yg ada<br />
negara kita ini skrg adalah negara yg hrs byr utg 80 triliyun tiap  thnnya, negara kita ini jg blm bisa belum bisa memenuhi keb BBMnya sdr, dan tentu saja negara kita ini tidak dalam posisi bisa memainkan harga minyak dunia. Jd kita harus realistis terhadap posisi negara kita di dunia  saat ini, tdk asal tuntut ini dan itu. saya rasa pemerintah juga sdh mempertimbangkan masak2 mengenai mslh ini, tdk asal ambil keputusan. dan melihat harga minyak dunia skrg ini, saya kira ini sudah keputusan terbaik. negara kita ini tidak dalam posisi mempunyai banyak pilihan, negara kita ini sedang kritis dan tidak punya pilihan, jd utk rakyatnya ( terutama mahasiswa ) harus realistis, semua org di negara kita ini juga susah, jd jgn merasa jd org yg plg merasa susah krn mslh ini.</p>
<p>dan untuk masalah nasinalisasi, saya sangat setuju dengan pendapat pak Rudy. saya rasa itu merupakan hal yg mustahil apalagi di saat2 skrg ini. bahkan saya rasa cukup konyol utk dibicarakan. negara kita ini ( dari pemrintah pusat sampe daerah )masih susah payah supaya cari investor bwt nanam modal di Ind, ini malah mau diputusin gitu aja, rasanya kok spt pembodohan masy saja, spt politosi yg ksh janji surga wktu kampanye. dikiranya ngurusin minyak itu gampang, asal ngomong aja itu, emang sanggup? emang siap? walaupun bisa sekalipun, saya rasa pasti butuh waktu beberapa tahun untuk menjalankan usaha minyak tsb, dan negara kita sudah kadung ambruk duluan.</p>
<p>jd kesimpulan saya,  kenaikan harga BBM, walaupun menyusahkan, merupakan keputusan terbaik saat ini. dan sebaiknya kita  membuang jauh2 semboyan gemah ripah loh jinawi itu, karena itu hanya membuat kita terbelai dgn kenyamanan yg semu yg membuat kita malas memaksimalkan potensi yg sesungguhnya ada. dan stlh keadaan negara tdk sesuai keadaan, kita jd mudah mengalami krisis kebangsaan spt skrg ini yg membuat kita mudah mengambil jalan pintas yg semakin menghancurkan negara spt korupsi dab ilegal logging</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudylatuperissa</title>
		<link>http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/#comment-16</link>
		<dc:creator>rudylatuperissa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 03:23:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://latuperissamedia.wordpress.com/?p=25#comment-16</guid>
		<description>@agustinus : Tidak ada salahnya jika kita mengupayakan pengelolaan minyak oleh tangan kita sendiri (nasionalisasi). Ketahanan ekonomi kita diyakini akan kuat. Info saja, tadi pagi (26/5) di TVOne saya sempat melihat komentar Ikhsanuddin Noorsyi ketika di sandingkan dengan seorang anggota Dewan dari Partai Golkar, Noorsyi mengomentari kenaikan harga BBM di Indonesia bukan semata-mata persoalan kenaikan harga minyak dunia. Tetapi persoalan produksi minyak di Indonesia. Karena harga minyak dunia merupakan shadow price, atau harga para spekulan dipasar. Sedangkan menurut harga para produsen minyak dunia (real price) jauh dibawah itu. 
Dengan demikian, kita sekarang harus berbicara bagaimana mengelola minyak bumi &quot;kita&quot;, untuk kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa kita sendiri. Tetapi persoalannya, kita sudah sekian lama tidak melihat pertamina (sebagai otorita pengelolaan minyak di Indonesia) belum berhasil melakukan itu. Saya berani mengatakan belum berhasil, ketergantungan kita terhadap pengolahan minyak mentah ke &quot;minyak jadi&quot; oleh bangsa  asing masih tinggi. Alias kita tidak bisa melakukan itu. Padahal sudah berapa lama Pertamina ada di Indonesia? kenapa tidak ada upaya strategis itu? saya masih bertanya-tanya!!
Selain itu, pada moment ini kita perlu mempertanyakan pula keberadaan Pertamina, karena ya kalo kita berhasil melakukan nasionalisasi pengelolaan minyak, bagaimana pertamina melakukannya? Kaget-kaget kita melihat Pertamina merugi lagi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@agustinus : Tidak ada salahnya jika kita mengupayakan pengelolaan minyak oleh tangan kita sendiri (nasionalisasi). Ketahanan ekonomi kita diyakini akan kuat. Info saja, tadi pagi (26/5) di TVOne saya sempat melihat komentar Ikhsanuddin Noorsyi ketika di sandingkan dengan seorang anggota Dewan dari Partai Golkar, Noorsyi mengomentari kenaikan harga BBM di Indonesia bukan semata-mata persoalan kenaikan harga minyak dunia. Tetapi persoalan produksi minyak di Indonesia. Karena harga minyak dunia merupakan shadow price, atau harga para spekulan dipasar. Sedangkan menurut harga para produsen minyak dunia (real price) jauh dibawah itu.<br />
Dengan demikian, kita sekarang harus berbicara bagaimana mengelola minyak bumi &#8220;kita&#8221;, untuk kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa kita sendiri. Tetapi persoalannya, kita sudah sekian lama tidak melihat pertamina (sebagai otorita pengelolaan minyak di Indonesia) belum berhasil melakukan itu. Saya berani mengatakan belum berhasil, ketergantungan kita terhadap pengolahan minyak mentah ke &#8220;minyak jadi&#8221; oleh bangsa  asing masih tinggi. Alias kita tidak bisa melakukan itu. Padahal sudah berapa lama Pertamina ada di Indonesia? kenapa tidak ada upaya strategis itu? saya masih bertanya-tanya!!<br />
Selain itu, pada moment ini kita perlu mempertanyakan pula keberadaan Pertamina, karena ya kalo kita berhasil melakukan nasionalisasi pengelolaan minyak, bagaimana pertamina melakukannya? Kaget-kaget kita melihat Pertamina merugi lagi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agustinus</title>
		<link>http://latuperissamedia.wordpress.com/2008/05/21/kenaikan-bbm-vs-privatisasi/#comment-15</link>
		<dc:creator>Agustinus</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 May 2008 23:50:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://latuperissamedia.wordpress.com/?p=25#comment-15</guid>
		<description>Menurut saya, kenaikan harga BBM seharusnya sejak dulu...Jangan dulu sudah naik, sekarang naik lagi, lalu entah kapan nanti naik lagi...Yang dirugikan adalah masyarakat menengah kebawah yang seperti barang mainan saja. Pemerintah harusnya sudah dapat memperhitungkan kemungkinan2 yang akan timbul jika harga minyak dunia naik. Katanya bangsa ini kaya akan minyak tapi kok yang jadi kaya justru bangsa lain yang sudah &quot;menjarah&quot; minyak di Indonesia. Saya setuju dengan nasionalisasi pengelolaan minyak karena jika hal itu tidak dilakukan maka habislah minyak kita untuk bangsa lain yang lebih &quot;pintar&quot; dari bangsa ini dalam hal pengelolaan minyaknya. Bagaimana ini? Sudah Rp 6.000,- nanti mau berapa lagi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya, kenaikan harga BBM seharusnya sejak dulu&#8230;Jangan dulu sudah naik, sekarang naik lagi, lalu entah kapan nanti naik lagi&#8230;Yang dirugikan adalah masyarakat menengah kebawah yang seperti barang mainan saja. Pemerintah harusnya sudah dapat memperhitungkan kemungkinan2 yang akan timbul jika harga minyak dunia naik. Katanya bangsa ini kaya akan minyak tapi kok yang jadi kaya justru bangsa lain yang sudah &#8220;menjarah&#8221; minyak di Indonesia. Saya setuju dengan nasionalisasi pengelolaan minyak karena jika hal itu tidak dilakukan maka habislah minyak kita untuk bangsa lain yang lebih &#8220;pintar&#8221; dari bangsa ini dalam hal pengelolaan minyaknya. Bagaimana ini? Sudah Rp 6.000,- nanti mau berapa lagi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
